Sopir dan kondektur bus sekolah mengikuti pembekalan yang digelar Dishub Tangsel, termasuk materi pendampingan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), agar pelayanan selama perjalanan semakin ramah, aman, dan sesuai kebutuhan setiap siswa. (Foto: Ist)KOTA TANGSEL | BD – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memberikan pembekalan khusus kepada para sopir dan kondektur yang melayani rute bus sekolah bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Langkah ini dilakukan untuk memastikan layanan transportasi tidak hanya aman, tetapi juga ramah dan inklusif sesuai kebutuhan setiap siswa.
Pembekalan tersebut menjadi bagian dari evaluasi rutin awak bus sekolah yang digelar di Kantor Dishub Tangsel, Serpong, Rabu (1/7/2026). Selain materi terkait keselamatan berkendara dan pelayanan, para awak bus juga dibekali pemahaman mengenai cara berinteraksi, berkomunikasi, hingga memberikan pendampingan kepada siswa berkebutuhan khusus selama perjalanan.
Kepala Dishub Tangsel, Ayep Jajat Sudrajat, mengatakan pelayanan bagi anak berkebutuhan khusus membutuhkan pendekatan yang berbeda. Karena itu, para awak bus dituntut memiliki kesabaran, kepedulian, serta pemahaman terhadap karakter masing-masing siswa.
“Yang kita tekankan adalah bagaimana sopir dan kondektur memberikan pelayanan terbaik. Anak-anak yang naik bus sekolah itu adalah tanggung jawab kita bersama, sehingga mereka harus merasa aman, nyaman, dan dilayani dengan baik,” ujar Ayep.
Menurutnya, pembekalan tersebut bertujuan agar setiap awak bus mampu memberikan pendampingan yang tepat ketika menghadapi berbagai kondisi di lapangan, mulai dari membantu siswa naik dan turun kendaraan hingga menghadapi situasi yang membutuhkan penanganan khusus.
Saat ini, Dishub Tangsel mengoperasikan tiga armada khusus untuk melayani siswa berkebutuhan khusus, terdiri atas dua unit bus dan satu mobil Elf. Armada tersebut menjadi bagian dari 10 rute bus sekolah yang beroperasi di Kota Tangsel.
Selain meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, Dishub juga memastikan seluruh armada yang melayani siswa berkebutuhan khusus berada dalam kondisi prima melalui pemeriksaan menyeluruh sebelum kembali beroperasi pada tahun ajaran baru.
Sementara itu, Ruddy (51), salah seorang sopir bus sekolah yang melayani rute anak berkebutuhan khusus, mengaku pekerjaannya memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Selama enam bulan bertugas, ia belajar bahwa melayani siswa berkebutuhan khusus membutuhkan kesabaran, empati, dan perhatian lebih.
“Kalau saya menganggap mereka seperti keluarga sendiri. Memang perlu ekstra sabar karena ada yang harus dibantu naik ke bus, ada yang tantrum atau perlu waktu beradaptasi. Tapi melihat mereka tetap semangat sekolah membuat kami ikut senang,” ungkap Ruddy.
Menurutnya, keberhasilan layanan bus sekolah bagi anak berkebutuhan khusus tidak hanya bergantung pada sopir dan kondektur, tetapi juga kolaborasi antara Dishub, pihak sekolah, serta orang tua dalam mendampingi proses adaptasi siswa, termasuk ketika terjadi pergantian awak bus.
Melalui pembekalan tersebut, Dishub berharap seluruh awak bus mampu menghadirkan layanan transportasi sekolah yang semakin inklusif, sehingga setiap anak, tanpa terkecuali, dapat memperoleh akses pendidikan yang aman, nyaman, dan setara. (Idris Ibrahim)
Tidak ada komentar