Lewat Workshop Kriya, Pemkot Tangsel Dorong Pelaku Ekraf Tingkatkan Nilai Produk

waktu baca 4 menit
Jumat, 9 Okt 2026 12:27 9 Nazwa

KOTA TANGSEL | BD — Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mendorong peningkatan kapasitas pelaku ekonomi kreatif (ekraf) subsektor kriya melalui pelatihan dan penguatan ekosistem industri kreatif. Upaya ini dilakukan agar pelaku usaha mampu mengembangkan produk yang berkualitas, memiliki nilai tambah, serta berdaya saing di tengah persaingan pasar.

Salah satu langkah yang dilakukan yakni melalui Workshop Kriya Tangerang Selatan dalam rangka mendukung Program Penguatan Ekosistem Creative Hub. Kegiatan tersebut berlangsung di Command Center Puspemkot Tangsel, Kamis (8/10/2026), dengan melibatkan kolaborasi sejumlah perangkat daerah dan Kementerian Ekonomi Kreatif.

Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, pengembangan produk kriya tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan produksi. Pelaku usaha juga perlu memahami cara membangun identitas merek, melakukan inovasi, serta mengenali kebutuhan konsumen agar produk yang dihasilkan memiliki keunggulan tersendiri.

“Pelatihan ini terkait bagaimana para pelaku ekraf ini bisa memiliki brand identity, supaya menjadi sebuah kekhasan tersendiri dalam ekonomi kreatif. Karena persaingan di dunia kriya itu kan sangat luar biasa, kalau kita tidak bisa bersaing dan tidak bisa membuat inovasi yang berbeda dengan daerah lain, kita akan kalah bersaing,” ujar Pilar.

Menurutnya, pembekalan kepada pelaku ekonomi kreatif perlu mencakup pengetahuan dan pengalaman yang dapat diterapkan dalam pengembangan usaha. Dengan begitu, pelaku kriya dapat memahami potensi produknya sekaligus menentukan strategi yang sesuai untuk menghadapi persaingan.

Pilar menekankan pentingnya riset dalam proses pengembangan produk. Pelaku usaha perlu mengenali karakteristik pasar, memahami kebutuhan konsumen, serta menemukan ciri khas yang membedakan produk mereka dari produk sejenis.

“Para pelaku ekraf ini diberikan kesadaran secara kolektif, materi, ilmu, dan pengalaman bahwa setiap produk di Tangsel harus punya ciri khas tersendiri. Mereka harus meriset, bagaimana cara mengenal pasar dan bagaimana cara menguasai pasar,” jelasnya.

Tingkatkan Kapasitas Pelaku Kriya

Subsektor kriya di Tangsel memiliki cakupan produk yang beragam, mulai dari aksesori seperti kalung, gelang, dan cincin, produk interior dan pajangan, furnitur, hingga batik dan tenun.

Keragaman tersebut menjadi potensi yang dapat dikembangkan untuk memperkuat industri kreatif daerah. Namun, pelaku usaha juga perlu meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan produk agar tidak hanya mengandalkan kualitas, tetapi mampu menawarkan keunikan dan nilai tambah kepada konsumen.

Pilar menilai, produk kriya yang dihasilkan pelaku usaha lokal memiliki kualitas yang baik dan berpotensi menjangkau pasar dunia. Meski demikian, persaingan dengan produk impor yang ditawarkan dengan harga lebih murah masih menjadi tantangan.

“Produk mereka sebenarnya bagus-bagus. Bahkan kualitasnya sudah bisa sampai pasar dunia. Cuma karena persaingan dengan produk-produk China yang lebih murah, mereka (pelaku ekraf lokal) kalah,” kata dia.

Karena itu, pelaku usaha didorong untuk mengidentifikasi keunggulan produknya dan mengembangkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan pasar. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi produk kriya lokal di tengah persaingan industri kreatif.

Pilar juga mencontohkan batik Tangsel yang perlu memiliki karakteristik tersendiri agar mampu bersaing dengan produk dari daerah lain. Menurutnya, riset dapat membantu pelaku usaha menemukan pembeda yang menjadi identitas produk.

“Batik di Tangsel juga ada. Tapi bagaimana supaya batiknya Tangsel bisa bersaing dengan daerah lain? Berarti harus ada pembeda. Apa pembeda itu, mereka harus melakukan riset,” jelasnya.

Kolaborasi Lintas Perangkat Daerah

Workshop Kriya Tangerang Selatan diselenggarakan melalui kolaborasi Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan UKM, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tangsel bersama Kementerian Ekonomi Kreatif.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif melalui peningkatan pengetahuan dan kemampuan pelaku usaha. Pengembangan ekosistem ini diharapkan dapat mendukung pelaku kriya dalam meningkatkan kualitas produk sekaligus memperkuat daya saing usaha.

Pilar berharap, pelatihan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi pelaku ekonomi kreatif, terutama dalam melakukan riset, membangun identitas produk, dan menciptakan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Riset itu perlu dilakukan, lalu kita berikan ilmunya bersama Kementerian Ekraf supaya melakukan riset yang mendalam. Supaya hasil dari produk itu benar-benar memiliki kualitas tinggi, berdaya saing, dan punya uniqueness sendiri,” tuturnya. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA