Ilustrasi epik perjalanan Bima (Werkudara) dalam kisah Dewa Ruci saat melawan naga di dasar samudra demi mencari Tirta Perwitasari, simbol pencarian jati diri dan kesadaran ruhani dalam khazanah pewayangan Nusantara. (Foto: Gambar dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan)OPINI | BD — “Tidak ada satupun kultur di dunia ini yang bisa maju tanpa menyadari ilmu dari leluhurnya.”
— Bagus Muljadi
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan besar tentang arah peradaban Indonesia hari ini. Menariknya, pernyataan tersebut datang dari seorang ilmuwan modern, bukan tokoh spiritual atau budayawan tradisional. Di tengah dunia yang semakin teknologis, Bagus Muljadi justru mengingatkan pentingnya pengetahuan leluhur sebagai fondasi kebudayaan.
Pernyataan itu menjadi relevan ketika melihat kondisi masyarakat Indonesia modern yang tampak maju secara material, tetapi sering mengalami kekosongan identitas. Kita berkembang pesat dalam teknologi, infrastruktur, dan arus informasi, namun di saat yang sama banyak orang merasa tercerabut dari akar kebudayaannya sendiri.
Indonesia seperti tubuh raksasa yang kehilangan pusat kesadarannya.
Sejak dahulu, alam pikir Nusantara sebenarnya dibangun di atas simbol, mitos, dan pengalaman spiritual. Leluhur Nusantara tidak melihat dunia sekadar sebagai kumpulan benda mati, melainkan sebagai kesatuan kosmis yang hidup. Gunung dipandang sakral, laut dihormati, dan hutan dijaga karena manusia dipahami sebagai bagian dari semesta, bukan penguasa tunggal atasnya.
Karena itu kisah-kisah seperti Dewa Ruci tidak pernah sekadar dongeng. Di balik narasi pewayangan tersebut tersembunyi refleksi filosofis tentang manusia dan pencarian jati dirinya.
Dalam kisah itu, Bima mencari Tirta Perwitasari, air suci kehidupan. Perjalanan tersebut membawanya menyelam ke dasar samudra, bertarung melawan naga, lalu bertemu Dewa Ruci — sosok kecil yang justru menyimpan keluasan makna semesta.
Jika dibaca melalui perspektif tasawuf, perjalanan Bima adalah simbol perjalanan manusia menuju kesadaran diri.
Tubuh besar Bima melambangkan jasad manusia: kuat, gagah, tetapi mudah terikat pada dunia lahiriah. Naga yang dilawannya melambangkan nafsu dan ego yang menutupi kesadaran batin. Sedangkan pertemuannya dengan Dewa Ruci menggambarkan proses penyelaman ke ruang terdalam diri manusia.
Dalam tasawuf, manusia tidak hanya dipahami sebagai tubuh biologis. Ada lapisan-lapisan kesadaran di dalam dirinya:
jasad sebagai kendaraan duniawi,
kolbu sebagai pusat kesadaran,
ruh sebagai cahaya Ilahi,
dan sirr, rahasia terdalam tempat manusia mengenali asal keberadaannya.
Ketika Bima masuk ke dalam Dewa Ruci, itu bukan sekadar adegan simbolik, melainkan gambaran tentang lenyapnya ego di hadapan kesadaran yang lebih tinggi. Manusia mulai menyadari bahwa dirinya bukan hanya tubuh yang hidup di dunia, melainkan ruh yang sedang menempuh perjalanan pulang.
Sayangnya, cara pandang seperti ini perlahan tersingkir sejak kolonialisme modern masuk ke Nusantara.
Yang dijajah ternyata bukan hanya wilayah geografis, tetapi juga kesadaran. Kolonialisme memperkenalkan paradigma bahwa sesuatu dianggap benar hanya jika rasional, empiris, dan dapat diukur. Simbol-simbol leluhur dianggap tahayul. Spiritualitas dipisahkan dari ilmu pengetahuan. Tradisi diposisikan sebagai penghambat kemajuan.
Akibatnya, masyarakat Nusantara mulai melihat dirinya melalui “kacamata asing”. Kita diajarkan untuk mengagumi modernitas, tetapi perlahan merasa malu terhadap akar budaya sendiri.
Di titik inilah ketercerabutan terjadi.
Kita menjadi masyarakat yang modern secara teknologis, tetapi sering kehilangan orientasi batin. Kita hidup di tengah arus informasi yang melimpah, namun miskin makna. Kita semakin terhubung secara digital, tetapi semakin jauh dari kedalaman diri sendiri.
Fenomena ini sebenarnya telah diperdebatkan sejak Polemik Kebudayaan Indonesia tahun 1930-an. Sutan Takdir Alisjahbana mendorong Indonesia menuju modernitas Barat yang rasional dan progresif. Sebaliknya, Sanusi Pane mengingatkan pentingnya menjaga kedalaman spiritual dan kepribadian Timur.
Puluhan tahun kemudian, perdebatan itu masih terasa relevan.
Modernitas memang membawa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga melahirkan krisis eksistensial: kecemasan, alienasi, dan kehilangan identitas. Manusia modern mampu menjelajahi luar angkasa, tetapi sering gagal memahami ruang batinnya sendiri.
Karena itu, menemukan kembali Nusantara bukan berarti menolak modernitas atau kembali hidup di masa lampau. Yang diperlukan adalah kemampuan membaca ulang warisan leluhur secara lebih mendalam dan kontekstual.
Pengetahuan tradisional tidak harus dipertentangkan dengan sains modern. Justru keduanya dapat saling melengkapi. Sains membantu manusia memahami dunia material, sementara kebudayaan dan spiritualitas membantu manusia memahami makna keberadaannya.
Mungkin sebab itu Nusantara hari ini perlu kembali “menyelam” ke dalam dirinya sendiri. Bukan untuk tenggelam dalam romantisme masa lalu, melainkan untuk menemukan kembali ruh yang selama ini terlupakan.
Sebab bangsa yang kehilangan akar batinnya akan mudah tumbuh besar secara jasad, tetapi rapuh secara jiwa.
Dan mungkin, tantangan terbesar Indonesia hari ini bukan sekadar membangun kota-kota tinggi atau mengejar pertumbuhan ekonomi, melainkan menemukan kembali pusat kesadarannya sendiri: ruh Nusantara yang lama tertidur di dalam tubuh raksasa bernama Indonesia.
Penulis: Mohamad Romli
Penikmat teks filsafat dan tasawuf, pemimpin redaksi BantenDaily. (*)
Tidak ada komentar