Mohamad Romli (Foto: Dok. Pribadi Penulis)OPINI | BD — Oleh banyak ukuran, kita sedang hidup di zaman paling maju dalam sejarah manusia. Informasi tersedia dalam hitungan detik. Buku, jurnal, diskusi, pengetahuan, semuanya bisa diakses dari genggaman tangan. Ironisnya, di tengah kelimpahan akses terhadap ilmu, justru banyak manusia modern yang mengalami kemiskinan kedalaman.
Kita hidup di era ketika orang lebih cepat mengetahui tren terbaru dibanding memahami dirinya sendiri.
Lihatlah kehidupan sehari-hari. Banyak orang mengeluh tidak punya waktu membaca, tidak sempat berpikir, tidak ada ruang untuk merenung. Namun pada saat yang sama, mereka bisa menghabiskan berjam-jam menatap layar, berpindah dari satu video ke video lain, dari satu komentar ke komentar lain, dari satu sensasi ke sensasi berikutnya. Waktu habis, energi terkuras, tetapi sering kali tidak ada pertumbuhan yang benar-benar terjadi.
Inilah paradoks manusia modern: menyepelekan hal-hal yang seharusnya dikerjakan, lalu mengerjakan dengan serius hal-hal yang sebenarnya bisa disepelekan.
Membaca buku dianggap berat. Duduk dalam kesunyian terasa membosankan. Menulis dianggap melelahkan. Berdialog dengan diri sendiri terasa asing. Tetapi mengikuti drama media sosial, perdebatan kosong, gosip digital, atau konten hiburan tanpa arah justru terasa ringan dan menyenangkan.
Bukan berarti hiburan itu salah. Bukan berarti teknologi adalah musuh. Persoalannya muncul ketika hiburan mengambil alih ruang pertumbuhan, dan teknologi menggerus kemampuan manusia untuk berpikir dalam.
Budaya media sosial perlahan membentuk karakter yang serba cepat. Cepat melihat, cepat menilai, cepat berkomentar, cepat bereaksi. Namun belum tentu cepat memahami. Belum tentu matang dalam memaknai. Belum tentu kuat ketika hidup menghadirkan kenyataan yang tidak bisa di-skip seperti video.
Generasi hari ini terbiasa dengan sesuatu yang instan. Makanan cepat saji, informasi singkat, hiburan singkat, bahkan motivasi pun dibuat singkat. Akibatnya, banyak yang terbiasa menikmati hasil, tetapi tidak akrab dengan proses. Ingin sukses, tetapi tidak tahan belajar lama. Ingin terlihat cerdas, tetapi malas membaca. Ingin tampak dewasa, tetapi menghindari pergulatan.
Padahal sepanjang sejarah, manusia bertumbuh bukan dari kenyamanan, melainkan dari proses. Banyak pemikir besar membangun kedalaman intelektual bukan dari distraksi, melainkan dari membaca, mengamati, bertanya, dan merenung.
Hari ini, yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang sibuk membangun citra, tetapi malas membangun isi. Sibuk tampil meyakinkan, tetapi rapuh saat menghadapi kenyataan. Sibuk menunjukkan kehidupan, tetapi tidak benar-benar menjalani kehidupan dengan sadar.
Dampaknya mulai terlihat. Banyak orang mudah cemas. Mudah merasa tertinggal. Mudah minder. Mudah kehilangan arah. Tekanan hidup yang sebenarnya biasa, terasa begitu berat karena mental tidak pernah benar-benar digembleng. Sedikit kritik terasa serangan. Sedikit kegagalan terasa kehancuran. Sedikit penolakan terasa akhir segalanya.
Bukan karena hidup semakin berat. Bisa jadi karena daya tahan batin semakin lemah.
Krisis hari ini bukan hanya krisis ekonomi, bukan hanya krisis sosial, tetapi juga krisis kedalaman. Krisis membaca. Krisis berpikir. Krisis tafakur. Krisis kemampuan untuk duduk bersama diri sendiri.
Mungkin inilah saatnya kita mengevaluasi ulang cara hidup kita. Bukan sekadar bertanya berapa banyak konten yang sudah kita lihat hari ini, tetapi berapa banyak gagasan yang benar-benar kita pahami. Bukan hanya bertanya siapa yang melihat hidup kita, tetapi apakah kita sendiri sudah benar-benar mengenal hidup yang sedang kita jalani.
Karena pada akhirnya, manusia tidak runtuh karena kurang hiburan. Manusia runtuh ketika ia kehilangan kemampuan berpikir, kehilangan kekuatan batin, dan kehilangan keberanian untuk bertumbuh melalui proses.
Penulis: Mohamad Romli,
Penikmat teks filsafat dan tasawuf, Pemimpin Redaksi BantenDaily. (*)
Tidak ada komentar