Anggota DPRD Provinsi Banten, H. Ahmad Imron atau Gus Imron, saat menyambangi kediaman keluarga dengan anggota yang mengalami gangguan kejiwaan di Kampung Panggang, Desa Selapajang, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang. Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian sekaligus upaya memastikan keluarga mendapat pendampingan dan bantuan yang layak. (Foto: Ist)TANGERANG | BD — Ketika sebuah keluarga tak lagi mampu menghadapi persoalannya sendiri, pertolongan sering kali bermula dari seseorang yang bersedia datang, melihat lebih dekat, dan memilih untuk tidak berpaling. Itulah yang dilakukan H. Ahmad Imron ketika mengetahui kondisi sebuah keluarga di Kampung Panggang, Desa Selapajang, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang.
Keluarga yang terdiri atas seorang ayah dan dua anak tersebut tengah menghadapi persoalan gangguan kejiwaan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Keterbatasan yang mereka miliki membuat upaya untuk mendapatkan penanganan yang layak bukan perkara mudah.
Salah seorang anak laki-laki mengalami kondisi yang cukup berat. Dalam kesehariannya, ia kerap berkeluyuran tanpa mengenakan busana. Keadaan tersebut tidak hanya menjadi beban bagi keluarga, tetapi juga menggambarkan betapa rentannya kondisi yang sedang mereka hadapi.
Persoalan itu kemudian mendapat perhatian H. Ahmad Imron, Anggota DPRD Provinsi Banten dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Alih-alih hanya menyampaikan keprihatinan, Gus Imron memilih datang dan mendampingi. Ia berupaya mencari jalan agar anak tersebut dapat memperoleh pertolongan serta penanganan yang lebih layak.
“Terus terang, saya sangat prihatin melihat kondisi keluarga ini. Saya tidak tega hanya melihatnya begitu saja. Mereka adalah manusia yang juga berhak mendapatkan pertolongan dan kehidupan yang lebih layak,” ungkapnya kepada wartawan, Kamis (8/10).
Dari kepedulian tersebut, proses pendampingan kemudian dilakukan dengan melibatkan sejumlah pihak, termasuk Kementerian Sosial, untuk mencari penanganan yang memungkinkan bagi anak tersebut.
Upaya itu akhirnya membawa sang anak ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grogol untuk mendapatkan rehabilitasi.
Bagi Gus Imron, langkah tersebut bukan sekadar membawa seseorang ke fasilitas kesehatan. Di balik proses itu ada harapan agar anak tersebut mendapatkan penanganan yang selama ini sulit diperoleh, sekaligus memberikan ruang bagi keluarganya untuk menghadapi persoalan dengan dukungan yang lebih memadai.
“Bagi saya, ini bukan sekadar persoalan gangguan kejiwaan. Ini persoalan kemanusiaan. Ketika ada orang yang sedang berada dalam kondisi seperti ini, jangan sampai kita justru menjauh. Mereka membutuhkan kita untuk hadir, mendampingi, dan membantu mencari jalan keluar.”
Kondisi keluarga tersebut memang tidak sederhana. Orang tua mereka juga berada dalam keadaan yang sangat sulit dan memprihatinkan. Karena itu, perhatian terhadap keluarga tersebut tidak berhenti pada anak yang telah dibawa untuk mendapatkan rehabilitasi.
Masih ada orang tua yang membutuhkan dukungan. Masih ada keluarga yang membutuhkan pendampingan. Dan masih ada kehidupan yang harus perlahan-lahan ditata kembali.
Di situlah persoalan ini menjadi lebih dari sekadar urusan kesehatan. Bagi Gus Imron, kondisi tersebut merupakan persoalan kemanusiaan yang membutuhkan kepedulian bersama.
“Saya berharap setelah mendapatkan penanganan, anak ini dan keluarganya bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik dan manusiawi.”
Kisah keluarga di Kampung Panggang itu memperlihatkan bahwa bagi mereka yang berada dalam kondisi paling rentan, pertolongan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, semuanya bermula dari kesediaan seseorang untuk berhenti sejenak, melihat keadaan dengan lebih dekat, kemudian memilih untuk hadir.
Bagi Gus Imron, kehadiran itu diwujudkan melalui pendampingan dan upaya mencari jalan keluar. Sebab di balik persoalan kejiwaan, tetap ada manusia yang membutuhkan perhatian; di balik sebuah keluarga yang sedang berjuang, ada harapan yang perlu dijaga agar tidak padam. (*)
Tidak ada komentar