UMN Kembangkan U-Tapis, AI untuk Membantu Koreksi Bahasa Jurnalistik

waktu baca 5 menit
Rabu, 30 Sep 2026 20:37 11 Redaksi

TANGERANG | BD — Universitas Multimedia Nusantara (UMN) mengembangkan U-Tapis, aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membantu mendeteksi dan mengoreksi kesalahan bahasa dalam naskah jurnalistik. Teknologi ini dikembangkan sebagai alat bantu bagi jurnalis dan editor untuk meningkatkan ketelitian berbahasa di tengah tuntutan produksi berita yang cepat.

U-Tapis menjadi salah satu gagasan utama dalam buku Sunggi Bahasa: Bahasa Indonesia Jurnalistik Berbasis U-Tapis, Aplikasi Akal Imitasi Penapis Kesalahan Berbahasa, karya Dr. Niknik Mediyawati, M.Hum., Samiaji Bintang Nusantara, S.T., M.I.Kom., Marlinda Vasty Overbeek, S.Kom., M.Kom., Rudi Sutomo, S.Kom., M.Si., M.Kom., dan Moeljono Widjaja, B.Sc., M.Sc., Ph.D.

Buku tersebut diperkenalkan dalam kegiatan From Manuscript to Bookshelf: Book Launch & Dialogue on the Art of Writing di Ruang Borneo, P.K. Ojong–Jakob Oetama Tower Lantai 20, UMN, Rabu (30/9/2026).

Menjunjung Bahasa Indonesia

Dr. Niknik Mediyawati menjelaskan, istilah “Sunggi” dipilih sebagai simbol menjunjung sesuatu di atas kepala. Dalam konteks buku tersebut, Sunggi Bahasa dimaknai sebagai upaya menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sekaligus bagian dari kecintaan terhadap Indonesia.

“Dengan Sunggi Bahasa ini, kita sebagai akademisi mampu menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,” ujar Niknik.

Menurut Niknik, judul tersebut juga memiliki cerita tersendiri. Kata “sunggi” merupakan usulan seorang mahasiswa UMN bernama Anissa yang memberikan gagasan tersebut sebelum meninggal dunia beberapa hari menjelang kegiatan peluncuran buku.

Namun, substansi buku tidak berhenti pada simbolisme bahasa. Sunggi Bahasa berangkat dari persoalan konkret dalam penggunaan bahasa Indonesia, khususnya ketika bahasa digunakan untuk memproduksi informasi jurnalistik di tengah perkembangan teknologi AI.

U-Tapis Deteksi Kesalahan Bahasa

Marlinda Vasty Overbeek menjelaskan, U-Tapis dikembangkan untuk mendeteksi sekaligus membantu mengoreksi kesalahan berbahasa. Aplikasi tersebut memanfaatkan sejumlah pendekatan dalam kecerdasan buatan, termasuk machine learning dan deep learning.

Tim pengembang telah membangun sekitar 11 modul untuk menangani berbagai persoalan kebahasaan. Konsep “tapis” menggambarkan proses penyaringan bahasa melalui aturan-aturan kebahasaan yang diterjemahkan ke dalam model matematis dan algoritmik.

Dengan pendekatan tersebut, U-Tapis tidak sekadar menghasilkan teks baru. Sistem diarahkan untuk mengenali bentuk bahasa, menemukan bagian yang berpotensi salah, kemudian memberikan koreksi berdasarkan kaidah yang telah dibangun.

Membantu Jurnalis dan Editor

Samiaji Bintang Nusantara menekankan bahwa pengembangan U-Tapis tidak dimaksudkan untuk menghakimi jurnalis karena masih terdapat kesalahan bahasa dalam produk media.

Menurutnya, kesalahan bahasa dalam kerja jurnalistik dapat terjadi karena berbagai faktor. Jurnalis bekerja dalam situasi yang menuntut kecepatan, menghadapi tenggat waktu, serta harus segera menyajikan informasi kepada publik.

“Kesalahan-kesalahan ini pada dasarnya tidak sepenuhnya berdasarkan kesengajaan,” ujarnya.

Karena itu, U-Tapis ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti jurnalis maupun editor. Teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi perangkat tambahan untuk membantu pekerja media meningkatkan ketelitian bahasa sebelum berita dipublikasikan.

Memadukan Bahasa, Jurnalistik, dan Teknologi

Rudi Sutomo menjelaskan bahwa Sunggi Bahasa tidak dapat ditempatkan hanya sebagai buku tata bahasa atau buku teknologi informasi.

Buku tersebut mempertemukan tiga bidang utama, yakni bahasa Indonesia, jurnalistik, dan teknologi. Kaidah bahasa menjadi fondasi, sementara konteks jurnalistik dan teknologi digunakan untuk melihat bagaimana kesalahan bahasa dapat dideteksi serta dikoreksi.

“Buku ini menggunakan kaidah bahasa sebagai fondasi, tetapi bukan hanya buku tentang tata bahasa. Buku ini juga membahas bahasa dalam praktik jurnalistik dan bagaimana teknologi yang digunakan dapat membantu mendeteksi kesalahan bahasa,” katanya.

Pembaca dapat menemukan pembahasan mengenai kaidah bahasa Indonesia, penerapannya dalam jurnalistik, serta teknologi yang digunakan untuk membantu proses penyuntingan.

AI Tidak Menggantikan Kreativitas Jurnalistik

Dalam sesi diskusi, jurnalis Tangerang Mohamad Romli menyoroti perbedaan antara bahasa yang benar secara kaidah dengan bahasa yang memiliki karakter manusiawi.

Menurutnya, produk jurnalistik tidak hanya bertujuan menyampaikan informasi. Dalam sejumlah bentuk tulisan, terutama narasi dan feature, bahasa juga digunakan untuk membangun kedekatan emosional, menyentuh pembaca, dan mendorong kesadaran.

Menanggapi hal tersebut, Bintang menegaskan bahwa U-Tapis tidak dimaksudkan untuk menggantikan kreativitas manusia.

Sebaliknya, pengembangan U-Tapis diarahkan untuk memperkuat kekhasan bahasa Indonesia dengan mempertimbangkan kekayaan kebahasaan seperti peribahasa, pantun, idiom, dan unsur bahasa daerah.

Dengan demikian, teknologi yang dikembangkan tidak semata-mata mengikuti pola bahasa dari sistem AI global, tetapi berupaya membangun perangkat yang lebih dekat dengan karakter bahasa Indonesia.

Data Menjadi Fondasi Pengembangan

Pengembangan U-Tapis membutuhkan data sebagai bahan untuk membangun pola kebahasaan. Tim pengembang menggunakan sekitar 10 ribu artikel mentah sebagai salah satu sumber data dalam pengembangan sistem. Data tersebut antara lain diperoleh melalui dukungan Tribunnews.

Data kemudian diproses untuk menemukan pola bahasa yang diperlukan dalam pengembangan berbagai modul. Dalam proses tersebut, anotator manusia memiliki peran penting dalam memberikan pelabelan berdasarkan kaidah kebahasaan.

Pelabelan tersebut menjadi dasar bagi sistem untuk mempelajari bentuk-bentuk bahasa yang benar dan salah.

Proses koreksi dilakukan melalui rangkaian atau pipeline yang dimulai dari pendeteksian, pengolahan aturan kebahasaan, hingga koreksi. Teknologi berbasis transformer juga digunakan dalam tahap tertentu untuk membantu proses pemodelan bahasa.

U-Tapis Masih dalam Tahap Pengembangan

Meski telah dikembangkan dan digunakan dalam pengujian terbatas, U-Tapis belum sepenuhnya dibuka untuk publik.

Tim menyebut aplikasi tersebut masih berada dalam tahap pengembangan dan pengujian. Sejumlah algoritma yang dikembangkan juga tengah diproses dalam pengajuan kekayaan intelektual atau paten.

Untuk saat ini, U-Tapis dapat digunakan secara terbatas di lingkungan UMN. Pengembangan lebih lanjut dilakukan melalui penelitian, termasuk dengan dukungan dari BRIN.

Tim berharap aplikasi tersebut dapat terus dikembangkan hingga nantinya dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

Teknologi sebagai Alat Bantu

Moeljono Widjaja melihat perkembangan AI sebagai peluang yang perlu disikapi secara kritis.

Menurutnya, AI dapat digunakan untuk membantu manusia memahami persoalan dan menemukan solusi, tetapi tidak semestinya membuat manusia berhenti belajar atau menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.

Karena itu, Sunggi Bahasa tidak menawarkan teknologi sebagai pengganti manusia. Buku tersebut memperlihatkan bagaimana bahasa, kemampuan jurnalistik, dan teknologi dapat ditempatkan dalam satu ekosistem kerja.

Niknik menyebut kolaborasi lintas disiplin menjadi salah satu kekuatan utama buku tersebut. Keilmuan bahasa Indonesia berkolaborasi dengan jurnalistik, sistem informasi, dan teknik informatika untuk menjawab persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dari satu disiplin.

“Keilmuan akan menemukan sesuatu yang bermakna ketika mampu berkolaborasi dengan ilmu yang lain,” tuturnya.

Pada akhirnya, U-Tapis ditempatkan sebagai alat penyaring dan pendukung kualitas bahasa. Sementara keputusan editorial, konteks, kreativitas, dan tanggung jawab terhadap publik tetap berada pada manusia. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA