HIMNI Periode Baru Bidik Generasi Muda untuk Perkuat Komunitas Nuklir Indonesia

waktu baca 3 menit
Minggu, 16 Agu 2026 01:09 12 Nazwa

KOTA TANGSEL | BD — Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI) menempatkan generasi muda sebagai salah satu bagian penting dalam penguatan organisasi periode 2026-2031. Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Djarot Sulistio Wisnubroto, HIMNI menargetkan perluasan anggota sekaligus pembentukan jaringan organisasi anak muda di berbagai daerah.

Langkah tersebut menjadi bagian dari agenda kepengurusan baru HIMNI yang resmi dikukuhkan di Aula PT Intergy, TBIC-BRIN, Sabtu (13/8/2026). Selain memperluas jaringan, HIMNI ingin membangun komunitas yang lebih kuat dengan melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Djarot mengatakan, penguatan basis anggota menjadi salah satu pekerjaan yang akan dilakukan selama masa kepengurusan. Menurutnya, HIMNI membutuhkan komunitas yang lebih luas agar semakin banyak sumber daya manusia yang memiliki ketertarikan maupun keterlibatan dalam bidang nuklir dapat terhubung melalui organisasi.

“Kita ingin menambah jumlah anggota, menambah jumlah cabang di daerah, dan membuat cabang organisasi anak muda di daerah,” kata Djarot.

Saat ini, HIMNI telah memiliki cabang di sejumlah wilayah, yakni Banten, Jawa Barat, Jakarta, Kalimantan Barat dan Yogyakarta. Ke depan, organisasi tersebut berencana memperluas jaringan ke daerah lain, termasuk Bangka.

Perluasan jaringan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menambah jumlah cabang, tetapi juga membuka ruang lebih besar bagi generasi muda untuk mengenal dan terlibat dalam komunitas nuklir.

Djarot menilai keterlibatan anak muda penting untuk menjaga keberlanjutan komunitas nuklir di Indonesia. Karena itu, HIMNI ingin menghadirkan wadah organisasi yang dapat mempertemukan masyarakat dengan ketertarikan terhadap teknologi nuklir, termasuk mereka yang belum memiliki latar belakang pendidikan khusus di bidang tersebut.

“Pokoknya suka dengan nuklir bisa jadi anggota. Tidak harus seorang profesor atau dokter nuklir,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa HIMNI ingin membangun keanggotaan yang lebih inklusif. Ketertarikan terhadap teknologi nuklir menjadi salah satu pintu bagi masyarakat untuk bergabung, sehingga organisasi tidak hanya diisi oleh akademisi, peneliti maupun profesional yang bekerja langsung di bidang nuklir.

Menurut Djarot, Indonesia sebenarnya memiliki banyak sumber daya manusia yang telah menggunakan teknologi nuklir dalam pekerjaan mereka. Namun, sebagian di antaranya belum terhubung atau dikenal sebagai bagian dari komunitas nuklir.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan HIMNI ingin memperkuat basis keanggotaan. Dengan jaringan yang lebih luas, organisasi diharapkan dapat mempertemukan lebih banyak individu dan kelompok yang memiliki kepentingan maupun pengalaman dalam pemanfaatan teknologi nuklir.

Selain generasi muda, HIMNI juga membuka ruang bagi berbagai pemangku kepentingan untuk terlibat dalam organisasi. Keterlibatan tersebut dinilai penting untuk membangun komunitas yang lebih kuat sekaligus memperluas jejaring kerja HIMNI di berbagai daerah.

“Kita ingin menyusun keanggotaan yang kuat, termasuk mengajak banyak pemangku kepentingan yang berpengaruh untuk terlibat atau bisa jadi pengurus atau anggota HIMNI,” tutur Djarot.

Melalui strategi tersebut, HIMNI periode 2026-2031 menargetkan terbentuknya komunitas nuklir yang lebih luas dan terhubung. Generasi muda di daerah diharapkan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam perkembangan komunitas serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir di Indonesia. (Idris Ibrahim)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA