“Ada” atau “Diadakan” Ketika Bahasa Menentukan Cara Manusia Memandang Tuhan dan Dirinya

waktu baca 3 menit
Minggu, 17 Mei 2026 11:58 13 Redaksi

KOLOM | BD — Bahasa sering dianggap sekadar alat komunikasi. Padahal dalam banyak hal, bahasa diam-diam membentuk cara manusia memahami dirinya sendiri, dunia, bahkan Tuhan.

Satu kata bisa melahirkan cara pandang tertentu terhadap kehidupan. Dan sering kali, tanpa disadari, pilihan diksi yang tampak sederhana justru menyimpan konsekuensi filosofis yang besar.

Salah satunya adalah perbedaan antara kata “ada” dan “diadakan.”

Sekilas, keduanya tampak serupa. Sama-sama menunjuk pada eksistensi. Namun jika ditelusuri lebih dalam, keduanya menyimpan cara pandang yang sangat berbeda tentang manusia dan keberadaan.

Kata “ada” terdengar mandiri. Tegak. Otonom. Ia memberi kesan bahwa sesuatu berdiri dengan kekuatannya sendiri.

Kita biasa mengatakan:

“Aku ada.”
“Manusia ada.”
“Dunia ada.”

Tidak ada yang terasa janggal dari kalimat itu. Tetapi justru di situlah persoalannya. Bahasa yang terus-menerus menempatkan manusia sebagai subjek yang “ada” perlahan membangun kesadaran bahwa manusia adalah pusat dari dirinya sendiri.

Modernitas memperkuat cara pandang itu. Manusia diposisikan sebagai makhluk rasional yang mampu menentukan nasibnya sendiri. Kesuksesan dianggap hasil mutlak kerja keras individu. Pencapaian dipahami sebagai kemenangan personal. Perlahan lahir manusia yang merasa dirinya cukup bagi dirinya sendiri.

Padahal, benarkah manusia benar-benar “ada” secara mandiri?

Manusia lahir tanpa memilih dilahirkan. Ia tidak menentukan di mana ia lahir, dari siapa ia lahir, bahkan kapan hidupnya berakhir. Napas yang paling sederhana sekalipun bukan sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kuasanya.

Karena itu, kata “diadakan” sesungguhnya jauh lebih jujur dibanding sekadar “ada”.

“Diadakan” mengandung pengakuan bahwa keberadaan bukan sesuatu yang otonom. Ada sumber yang menghadirkan. Ada kuasa yang memungkinkan sesuatu tetap hidup. Ada kehendak yang bekerja di balik eksistensi manusia.

Dalam konteks spiritualitas, diksi “diadakan” membawa manusia pada kesadaran ontologis yang lebih rendah hati: bahwa dirinya bukan pusat dari segala sesuatu.

Di sinilah bahasa bertemu dengan teologi.

Ketika manusia merasa sekadar “ada”, ego mudah tumbuh. Manusia merasa dirinya penentu utama kehidupan. Ia merasa paling penting. Bahkan tanpa sadar menempatkan dirinya sebagai pusat semesta kecil bernama “aku”.

Namun ketika manusia menyadari dirinya “diadakan”, posisi itu berubah total.

Ia memahami bahwa hidup adalah pemberian.
Bahwa keberadaan adalah titipan.
Bahwa segala yang dimilikinya bergantung pada Yang Mahakuasa.

Kesadaran semacam ini sebenarnya bukan hanya persoalan agama, tetapi juga persoalan cara manusia memandang realitas.

Banyak kegelisahan manusia modern lahir dari hasrat untuk menjadi pusat. Manusia ingin mengontrol segalanya: masa depan, kesuksesan, citra diri, bahkan penerimaan sosial. Ketika semua itu tidak berjalan sesuai keinginan, lahirlah kecemasan, kehampaan, dan rasa kehilangan arah.

Mungkin karena sejak awal manusia terlalu sibuk menjadi pusat bagi dirinya sendiri.

Padahal pusat itu bukan manusia.

Tuhanlah pusat itu.

Kesadaran bahwa manusia “diadakan” mengembalikan proporsi hubungan antara manusia dan Tuhan. Manusia bukan pemilik mutlak hidupnya. Ia hanyalah makhluk yang terus-menerus dipelihara keberadaannya.

Dalam tradisi spiritual Islam, kesadaran semacam ini sangat penting karena menjadi dasar kehambaan. Seorang hamba tidak berdiri di atas rasa memiliki mutlak terhadap dirinya. Ia sadar bahwa dirinya bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.

Karena itu, kerendahan hati sejati lahir bukan ketika manusia merendahkan dirinya secara verbal, tetapi ketika ia sungguh memahami bahwa dirinya tidak pernah benar-benar mandiri.

Bahasa “diadakan” membawa manusia menuju kesadaran itu.

Bahwa hidup bukan sekadar soal “aku ada”, melainkan tentang siapa yang menghadirkan keberadaan itu sejak awal.

Dan ketika manusia memahami hal tersebut, ia tidak lagi menempatkan dirinya sebagai pusat kehidupan.

Ia kembali menempatkan Tuhan di pusat segala sesuatu.

Penulis: Mohamad Romli
Penikmat teks filsafat dan tasawuf, Pemimpin Redaksi BantenDaily. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA