Berakar di Nusantara, Bertumbuh Bersama Dunia

waktu baca 10 menit
Selasa, 27 Okt 2026 09:08 41 Redaksi

OPINI | BD — Pagi itu, saya menikmati sarapan sederhana: bandeng presto. Di sampingnya, tergeletak sebuah buku berjudul Syair Tambangraras, saduran dari khazanah sastra Jawa yang dikenal luas melalui Serat Centhini.

Pemandangan itu mungkin biasa saja. Sepiring makanan, sebuah buku, dan waktu luang untuk membaca. Tidak ada yang istimewa jika dilihat sekilas. Namun, entah mengapa, keduanya seperti sedang mengajak saya memikirkan sesuatu yang lebih jauh: tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan mengapa kita sering kali merasa perlu mencari pengakuan dari luar untuk meyakini sesuatu yang sebenarnya telah kita miliki.

Saya kemudian menuliskan sebuah kalimat: Karena kita bukan yatim piatu yang tiba-tiba menyusu ke Barat.

Kalimat ini memang terdengar provokatif. Namun, saya tidak sedang mengajak siapa pun membenci Barat, menolak modernitas, atau menganggap kebudayaan sendiri selalu lebih unggul daripada kebudayaan lain. Saya justru percaya bahwa manusia perlu belajar dari banyak tradisi untuk memperluas pemahamannya tentang kehidupan.

Yang saya persoalkan adalah kebiasaan menempatkan Barat sebagai ukuran utama bagi pengetahuan, seolah-olah sesuatu baru dianggap bernilai setelah mendapatkan pengakuan dari sana.

Kita boleh belajar kepada siapa saja, tetapi mengapa harus merasa lebih rendah sebelum belajar? Kita boleh menggunakan teori dari mana saja, tetapi mengapa harus menganggap pengalaman dan tradisi sendiri tidak cukup layak menjadi sumber pemikiran?

Bagi saya, ungkapan “yatim piatu” adalah metafora tentang hilangnya kesadaran terhadap akar intelektual sendiri. Sementara itu, frasa “menyusu ke Barat” merupakan sindiran terhadap sikap yang terus-menerus mencari legitimasi dari luar, seolah-olah kita tidak memiliki bekal untuk mulai berpikir.

Ini bukan persoalan Barat sebagai kebudayaan. Ini persoalan hubungan kita dengan pengetahuan dan cara kita memandang diri sendiri.

Kita tidak perlu menolak Barat untuk mencintai Nusantara. Kita hanya perlu berhenti menganggap diri sendiri lebih rendah.

Kita Punya Akar, tetapi Sering Lupa Menggali

Saya tertarik pada Syair Tambangraras karena buku ini membawa saya memasuki ruang pengetahuan Jawa yang selama ini mungkin lebih sering kita kenal sebagai warisan budaya daripada sebagai sumber pemikiran.

Di dalamnya, pengetahuan dihimpun melalui tembang. Kisah perjalanan, hubungan guru dan murid, kehidupan spiritual, serta berbagai pengalaman manusia dirangkai dalam bentuk sastra.

Saya membayangkan betapa panjang perjalanan sebuah pengetahuan sebelum sampai kepada kita. Ada orang-orang yang mengingat, menuturkan, menulis, menyalin, menyadur, dan meneruskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pengetahuan itu tidak selalu hadir dalam bentuk buku teori sebagaimana yang kita kenal di perguruan tinggi modern. Ia bisa hidup dalam tembang, cerita, petuah, naskah, ritual, bahkan dalam kebiasaan sehari-hari.

Barangkali selama ini kita terlalu terbiasa mencari pengetahuan dalam bentuk yang sudah ditentukan oleh sistem pendidikan modern. Kita mencari nama tokoh, istilah, teori, dan kutipan. Kita sibuk menghafal pemikiran orang lain, tetapi terkadang lupa bertanya: bagaimana manusia di tanah kita sendiri memahami kehidupan?

Apakah mereka tidak pernah berpikir tentang manusia, alam, kekuasaan, penderitaan, pengetahuan, dan Tuhan?

Tentu mereka berpikir. Persoalannya, kita perlu bersedia membaca peninggalan mereka dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar menjadikannya hiasan identitas.

Saya tidak ingin memuja masa lalu seolah-olah semua yang diwariskan leluhur pasti benar. Tradisi juga perlu dikritisi. Ada gagasan yang masih relevan, ada yang harus ditafsirkan ulang, dan ada pula yang mungkin tidak lagi sesuai dengan kehidupan hari ini.

Namun, mengkritisi tradisi berbeda dengan merendahkannya. Kita tidak harus menganggap warisan sendiri lebih unggul untuk mengakui bahwa di dalamnya terdapat pengetahuan yang layak dipelajari.

Menghargai tradisi bukan berarti menutupnya dari pertanyaan. Justru melalui pembacaan kritis, kita dapat membedakan mana warisan yang masih memberi kehidupan, mana yang perlu ditafsirkan ulang, dan mana yang sebaiknya ditinggalkan.

Bagi saya, warisan kebudayaan bukan benda mati yang hanya pantas disimpan di museum. Ia adalah bahan untuk berpikir, berdialog, dan menemukan kemungkinan baru.

Belajar ke Mana Saja, tanpa Kehilangan Diri Sendiri

Saya tidak melihat persoalan dalam mempelajari filsafat Barat, membaca buku-buku pemikir Eropa, atau menggunakan teori-teori modern untuk memahami masyarakat.

Saya sendiri tertarik pada filsafat, komunikasi, dan berbagai cara berpikir yang membantu kita membongkar sesuatu yang selama ini dianggap biasa. Pemikiran dari luar dapat membuka jendela baru, memperluas perspektif, dan membantu kita melihat kelemahan dalam cara berpikir sendiri. Tetapi, jendela bukanlah rumah.

Kita bisa memandang dunia melalui banyak jendela tanpa harus meninggalkan rumah tempat kita berpijak. Kita bisa belajar dari Derrida tanpa harus menganggap seluruh persoalan Nusantara hanya dapat dipahami melalui dekonstruksi. Kita bisa mempelajari teori komunikasi modern sambil tetap mempertanyakan apakah teori itu sepenuhnya sesuai dengan pengalaman masyarakat Indonesia.

Bagi saya, persoalan utamanya bukan dari mana sebuah teori berasal, melainkan bagaimana kita menggunakannya. Apakah kita memahaminya secara mendalam? Apakah kita mengujinya dalam konteks yang berbeda? Apakah kita berani mengkritiknya ketika tidak sesuai dengan kenyataan yang kita hadapi?

Belajar dari Barat tidak otomatis membuat seseorang kehilangan identitas. Sebaliknya, menolak semua pemikiran Barat juga tidak otomatis menjadikan seseorang mandiri secara intelektual.

Kemandirian berpikir tidak diukur dari seberapa sedikit kita membaca pemikiran asing, tetapi dari kemampuan kita menilai, mengolah, dan mengembangkan pengetahuan tanpa menyerahkan seluruh pertimbangan kepada otoritas mana pun.

Begitu pula ketika membaca Serat Centhini. Kita dapat mendialogkannya dengan berbagai pemikiran dunia, tetapi jangan sampai tradisi kita baru dianggap bernilai setelah mendapatkan pembenaran dari teori asing.

Mengapa kita tidak mulai dari pertanyaan yang tumbuh dari dalam karya itu sendiri? Bagaimana manusia Jawa memahami kehidupan? Bagaimana hubungan guru dan murid dibangun? Bagaimana pengetahuan spiritual, pengalaman sosial, dan kebijaksanaan sehari-hari dirangkai dalam sebuah karya sastra?

Setelah itu, kita dapat mempertemukannya dengan pemikiran dari berbagai belahan dunia.

Dengan cara demikian, dialog menjadi lebih setara. Nusantara tidak hanya menjadi objek yang diterangkan oleh teori-teori dari luar, tetapi juga menjadi sumber pengalaman dan pemikiran yang dapat memperkaya percakapan global.

Bandeng Presto dan Pengetahuan yang Dekat dengan Kehidupan

Pagi itu, bandeng presto di meja sarapan saya menjadi semacam teman berpikir.

Saya membayangkan betapa banyak pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat Nusantara: cara mengolah hasil bumi dan laut, membaca musim, mengelola air, membangun rumah, merawat hubungan sosial, hingga menciptakan bentuk-bentuk seni dan sastra.

Semua itu tentu tidak boleh langsung disebut sebagai bukti bahwa setiap tradisi lokal selalu lebih unggul. Kita tetap perlu meneliti, menguji, dan membandingkannya dengan pengetahuan lain.

Namun, ada satu hal yang sering luput: pengetahuan tidak selalu lahir di laboratorium, perpustakaan besar, atau universitas terkenal. Pengetahuan juga tumbuh dari pergulatan manusia menghadapi persoalan konkret dalam kehidupannya.

Bandeng presto, misalnya, bukan sekadar makanan di atas meja. Ia dapat menjadi pintu masuk untuk memikirkan kreativitas dalam mengolah sumber daya lokal, pengalaman kuliner, teknologi pengolahan pangan, dan kebudayaan yang diwariskan.

Sementara itu, buku di sampingnya mengingatkan saya bahwa pengetahuan juga bisa tumbuh melalui perenungan panjang, percakapan antargenerasi, dan usaha memahami kehidupan manusia.

Keduanya tentu berbeda. Makanan bukan teori filsafat, dan sebuah buku tidak otomatis menjadikan pembacanya bijaksana. Namun, keduanya mengingatkan saya bahwa kehidupan sehari-hari menyimpan banyak hal yang bisa dipelajari apabila kita bersedia memperhatikannya.

Saya tidak perlu menunggu berada di perpustakaan megah untuk mulai berpikir tentang Nusantara. Kadang-kadang, pemikiran itu justru datang ketika saya duduk menikmati sarapan sambil membuka halaman sebuah buku.

Barangkali di situlah pengetahuan seharusnya kembali menemukan tempatnya: dekat dengan kehidupan, berangkat dari pengalaman, dan terbuka terhadap pertanyaan.

Jangan Sampai Menjadi Asing di Rumah Sendiri

Ada ironi yang perlu kita renungkan. Kita bisa begitu bersemangat mengenali kebudayaan bangsa lain, tetapi tidak memiliki kesabaran yang sama untuk membaca naskah, memahami bahasa, atau menelusuri sejarah pengetahuan dari kebudayaan sendiri.

Kita mengenal istilah-istilah asing, tetapi belum tentu memahami gagasan yang tumbuh di lingkungan kita. Kita bisa mengutip pemikir besar dunia, tetapi kadang-kadang kesulitan menjelaskan mengapa tradisi lokal tertentu lahir dan bagaimana masyarakat dahulu menggunakannya untuk memahami kehidupan.

Tentu, masalahnya bukan pada istilah asing atau pemikiran dari luar. Masalahnya adalah ketika pengetahuan menjadi semacam aksesori untuk memperoleh pengakuan, bukan alat untuk memperdalam pemahaman.

Membaca akhirnya bukan lagi usaha mencari kebenaran, melainkan perlombaan menunjukkan siapa yang paling banyak mengetahui nama tokoh dan teori.

Padahal, semakin banyak membaca seharusnya semakin banyak pula pertanyaan yang muncul. Kita menjadi lebih rendah hati karena menyadari betapa luasnya pengetahuan dan betapa terbatasnya pemahaman kita sendiri.

Saya ingin membaca Syair Tambangraras bukan agar terlihat paling mengenal kebudayaan Jawa, apalagi untuk merasa lebih unggul daripada orang yang membaca buku Barat. Saya ingin memahami apa yang bisa dipelajari dari karya itu, bagaimana pengetahuan di dalamnya dibangun, dan sejauh mana ia dapat berdialog dengan persoalan manusia hari ini.

Saya juga tidak ingin menjadikan Nusantara sebagai jawaban untuk semua persoalan. Tidak ada satu tradisi pun yang mampu menjelaskan seluruh kompleksitas kehidupan manusia. Kita membutuhkan percakapan, perbandingan, kritik, dan kesediaan untuk belajar dari pengalaman yang berbeda.

Yang ingin saya perjuangkan adalah kesempatan yang setara bagi pengetahuan Nusantara untuk dibaca, dikaji, diuji, dan dikembangkan.

Bukan sekadar karena pengetahuan itu berasal dari tanah sendiri, melainkan karena setiap tradisi yang menyimpan pengalaman manusia layak diperiksa kontribusinya.

Bagi saya, itulah salah satu cara menghormati warisan intelektual: tidak berhenti pada kebanggaan, tetapi melanjutkannya menjadi kerja membaca, berpikir, dan menguji.

Kita adalah Anak-Anak Nusantara

Nusantara bukan ruang yang terisolasi dari dunia. Sejak berabad-abad lalu, kepulauan ini terhubung dengan berbagai peradaban melalui perdagangan, pelayaran, agama, bahasa, dan pertukaran pengetahuan.

Kebudayaan kita tumbuh melalui perjumpaan. Ada yang diterima, ada yang diolah, ada yang ditolak, dan ada yang berubah bentuk ketika bertemu dengan pengalaman masyarakat setempat.

Karena itu, mencintai Nusantara tidak berarti menolak pengaruh luar. Justru sejarah kita mengajarkan bahwa perjumpaan dapat menghasilkan sesuatu yang baru.

Yang perlu dijaga adalah kemampuan untuk menentukan sikap dalam perjumpaan itu. Kita tidak harus menerima semuanya hanya karena datang dari tempat yang dianggap lebih maju. Kita juga tidak perlu menolak semuanya hanya karena bukan berasal dari tradisi sendiri.

Kita perlu belajar dengan pikiran terbuka sekaligus memiliki keberanian untuk menilai.

Bagi saya, inilah perbedaan antara keterbukaan dan ketergantungan. Keterbukaan membuat kita bersedia mendengarkan banyak suara. Ketergantungan membuat kita sulit percaya pada penilaian sendiri tanpa persetujuan dari pihak lain.

Kita bisa menghormati para pemikir dunia tanpa harus mengecilkan pemikir dari tanah sendiri. Kita bisa mengakui kemajuan ilmu pengetahuan modern tanpa harus menganggap seluruh pengetahuan lokal sebagai sesuatu yang usang.

Kita juga perlu mengakui bahwa sebagian tradisi mungkin memiliki keterbatasan, sebagaimana teori modern pun memiliki konteks dan batas penerapannya. Menghormati pengetahuan berarti bersedia memeriksanya dengan jujur.

Barangkali inilah pekerjaan besar kita hari ini: bukan sekadar mengagumi masa lalu, melainkan membangun masa depan dengan kesadaran bahwa kita memiliki sejarah, pengalaman, dan sumber pengetahuan sendiri.

Saya ingin melihat warisan Nusantara hadir dalam percakapan intelektual masa kini, dibaca secara kritis di kampus, didiskusikan di ruang publik, dan dikembangkan untuk menjawab persoalan masyarakat. Bukan untuk menggantikan seluruh pengetahuan dunia, melainkan untuk memperkaya percakapan bersama.

Sebab, kita tidak harus menjadi orang lain untuk bisa belajar dari orang lain.

Pagi itu, setelah menikmati bandeng presto dan membaca beberapa halaman Syair Tambangraras, saya kembali pada satu keyakinan sederhana: kita boleh pergi sejauh mungkin untuk mencari pengetahuan, tetapi jangan sampai perjalanan itu membuat kita lupa bahwa kita juga memiliki sesuatu yang layak dipelajari.

Kita adalah anak-anak Nusantara yang memiliki akar, sejarah, tradisi, dan kebijaksanaan yang perlu terus digali. Namun, akar bukanlah rantai yang mengikat kita di satu tempat. Akar justru memberi kita pijakan untuk tumbuh, menjangkau lebih jauh, dan menghadapi angin perubahan tanpa mudah tumbang.

Belajarlah ke mana saja. Bacalah siapa saja. Berdialoglah dengan dunia.

Rawatlah akar kebudayaan sendiri, tetapi jangan menutup pintu bagi pengetahuan yang datang dari luar. Sebab, dunia terlalu luas untuk dipelajari hanya dari satu tradisi, dan kehidupan terlalu kaya untuk dipahami melalui satu sudut pandang.

Kita tidak menolak Barat sebagai sumber pengetahuan. Kita hanya menolak anggapan bahwa pengetahuan baru bernilai ketika memperoleh pengesahan dari Barat.

Kita tidak sedang berusaha membuktikan bahwa Nusantara lebih unggul daripada dunia. Kita sedang belajar menempatkan Nusantara sebagai bagian dari dunia yang memiliki hak untuk berpikir, bertanya, menguji, dan menyumbangkan gagasan.

Pada akhirnya, mengenal dunia itu penting. Namun, mengenali diri sendiri juga merupakan bagian dari perjalanan yang tidak kalah penting. Berakar di Nusantara, bertumbuh bersama dunia.

Bagi saya, itulah jalan yang patut ditempuh: mengenali diri tanpa merasa paling unggul, belajar dari orang lain tanpa merasa lebih rendah, dan menjadikan kebudayaan sendiri bukan sekadar kebanggaan masa lalu, melainkan sumber inspirasi untuk membangun masa depan.

Penulis: Mohamad Romli, Pemimpin Redaksi BantenDaily, mahasiswa magister komunikasi, Budi Luhur University (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA