KOTA TANGSEL | BD — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Kelompok 25 Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten menggelar sosialisasi anti-bullying di SDN 01 Cicaringin, Kabupaten Lebak. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa menanamkan kesadaran tentang bahaya perundungan sekaligus membangun budaya saling menghargai di lingkungan sekolah.
Kegiatan berlangsung interaktif. Sejak awal acara, para siswa tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari penyampaian materi, tanya jawab, permainan, hingga refleksi.
Kenali Bullying, Bangun Pertemanan Positif
Sosialisasi mengangkat tema “Stop Bullying, Kita Teman Bukan Lawan”. Materi disampaikan oleh Handi Maulana dan Siti Nur Khalisa dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia siswa sekolah dasar.
Pemateri membuka sesi dengan pertanyaan sederhana, “Siapa yang tahu apa itu bullying?”. Pertanyaan tersebut langsung disambut antusias oleh siswa yang mengangkat tangan dan menyampaikan pemahamannya tentang perundungan.
Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan bahwa bullying merupakan tindakan menyakiti, merendahkan, atau mengintimidasi orang lain secara sengaja dan berulang. Perundungan dapat dilakukan melalui perkataan, tindakan fisik, pengucilan dalam pergaulan, maupun melalui media sosial.
Para siswa juga diajak memahami bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Karena itu, perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengejek, merendahkan, atau memperlakukan teman secara tidak baik.
Empat Bentuk Bullying
Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa mengenalkan empat bentuk bullying yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, bullying fisik, seperti memukul, menendang, menjambak, mendorong, atau tindakan lain yang menyebabkan seseorang mengalami kesakitan secara fisik.
Kedua, bullying verbal, berupa perkataan yang menyakitkan seperti mengejek, menghina, atau memberikan julukan yang tidak pantas. Meskipun tidak meninggalkan luka secara fisik, tindakan tersebut dapat menimbulkan luka emosional.
Ketiga, bullying sosial, yakni tindakan mengucilkan, menjauhi, atau membuat seseorang merasa tidak diterima dalam kelompok karena perbedaan fisik, warna kulit, maupun latar belakang.
Keempat, cyberbullying, berupa komentar negatif, hujatan, atau ujaran kebencian melalui media sosial. Bentuk perundungan ini dinilai memiliki dampak serius karena dapat disaksikan banyak orang dan meninggalkan jejak digital dalam waktu yang panjang.
Dalam sesi refleksi, pemateri kemudian bertanya kepada siswa, “Pernahkah kalian mengejek teman?”. Sebagian besar siswa mengaku pernah melakukannya.
Mahasiswa kemudian memberikan pemahaman bahwa mengejek nama teman, termasuk membawa-bawa nama orang tua sebagai bahan candaan, merupakan tindakan yang tidak baik. Para siswa diingatkan bahwa nama merupakan pemberian dan doa dari orang tua yang semestinya dihormati.
Bullying Berdampak pada Korban, Pelaku, dan Saksi
Mahasiswa juga menjelaskan bahwa bullying tidak hanya memberikan dampak kepada korban, tetapi juga dapat memengaruhi pelaku dan siswa yang menyaksikannya.
Bagi korban, perundungan dapat memunculkan rasa takut, rendah diri, kehilangan semangat belajar, menarik diri dari lingkungan sosial, trauma, bahkan keengganan untuk datang ke sekolah.
Sementara bagi pelaku, kebiasaan melakukan bullying berpotensi membentuk perilaku agresif, mengurangi rasa empati, serta menyebabkan dirinya dijauhi oleh teman-teman.
Adapun bagi saksi, tindakan bullying dapat menimbulkan rasa takut menjadi korban berikutnya. Karena itu, siswa didorong untuk tidak diam ketika melihat perundungan dan berani membantu korban serta melaporkan kejadian kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya.
Menurut materi yang disampaikan, bullying dapat terjadi di berbagai lingkungan, mulai dari rumah, sekolah, masyarakat, hingga ruang digital. Sekolah menjadi salah satu lingkungan yang membutuhkan perhatian bersama sehingga seluruh warga sekolah memiliki peran dalam mencegah perundungan.
Siswa Diajak Berani Melawan Bullying
Dalam sesi pencegahan, siswa diajak membiasakan sikap saling menghargai, menjaga perkataan dan tindakan agar tidak menyakiti teman, serta menumbuhkan empati dalam pergaulan.
Mahasiswa juga mendorong siswa untuk berani mengatakan bahwa bullying merupakan tindakan yang salah. Setiap kejadian perundungan juga dianjurkan untuk segera disampaikan kepada guru, orang tua, atau orang dewasa yang dipercaya.
Bagi siswa yang menjadi korban bullying, pemateri menyarankan agar tetap tenang dan tidak membalas tindakan pelaku. Siswa dapat menjauh dari situasi yang membahayakan, menceritakan kejadian kepada orang dewasa yang dipercaya, meminta dukungan teman, serta tetap menjaga kepercayaan diri.
Ditutup Ice Breaking dan Butterfly Hug
Agar suasana sosialisasi tetap menyenangkan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan ice breaking. Para siswa secara aktif menyampaikan perasaan mereka ketika diejek, dipukul, atau dimusuhi oleh teman.
Sebagian besar siswa mengaku tindakan tersebut membuat mereka merasa sakit, sedih, malu, dan tidak nyaman.
Suasana kemudian dicairkan melalui ice breaking dengan lagu “Di Sini Teman, Di Sana Teman” yang diikuti para siswa dengan penuh semangat.
Menjelang akhir kegiatan, mahasiswa menayangkan film pendek bertema bullying. Tayangan tersebut menjadi bagian dari sesi refleksi untuk membantu siswa memahami dampak perundungan dari sudut pandang korban.
Rangkaian sosialisasi kemudian ditutup dengan praktik Butterfly Hug, sebuah teknik sederhana untuk membantu menenangkan diri sekaligus mengenali dan menerima perasaan. Kegiatan tersebut dipadukan dengan kalimat afirmasi dan lagu “Usik”.
Suasana reflektif membuat sejumlah siswa tampak tersentuh hingga meneteskan air mata. Momen tersebut menjadi gambaran tumbuhnya empati siswa terhadap mereka yang mengalami perundungan.
Melalui kegiatan ini, KUKERTA Kelompok 25 UIN SMH Banten berharap siswa tidak hanya memahami bentuk dan dampak bullying, tetapi juga memiliki keberanian untuk menghentikan perundungan, membantu korban, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang.
Kontributor: Tania Cahayani dan Hilyatun Nisa, KUKERTA Kelompok 25 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. (*)
Tidak ada komentar