Kepala Diskominfo Tangsel, TB Asep Nurdin, menjelaskan strategi penggunaan big data analytics untuk menangkal hoaks dan fenomena echo chamber di ruang digital. (Foto: Ist)KOTA TANGSEL | BD — Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus memperkuat strategi komunikasi publik di tengah maraknya penyebaran hoaks dan terbentuknya fenomena echo chamber di ruang digital.
Melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), Pemkot Tangsel kini memanfaatkan teknologi big data analytics untuk memantau dinamika isu yang berkembang di masyarakat secara real-time. Langkah ini dilakukan agar pemerintah dapat merespons cepat setiap informasi menyesatkan sebelum berkembang menjadi krisis komunikasi.
Kepala Diskominfo Tangsel, TB Asep Nurdin, mengatakan tantangan komunikasi pemerintah saat ini bukan lagi sekadar menyampaikan informasi, tetapi memastikan pesan yang benar dapat menjangkau masyarakat di tengah derasnya arus konten digital.
“Ruang digital saat ini sangat dinamis. Informasi bergerak cepat, tetapi belum tentu seluruhnya benar. Karena itu, pemerintah harus hadir dengan sistem yang mampu membaca percakapan publik secara cepat dan akurat,” ujar Asep dalam keterangannya, Selasa (28/4/2026).
Menurutnya, penggunaan big data analytics memungkinkan pemerintah memetakan isu yang sedang ramai diperbincangkan warga, mengetahui sentimen publik, serta mengidentifikasi potensi disinformasi sejak dini.
Dengan pendekatan tersebut, Pemkot Tangsel dapat mengambil langkah preventif melalui klarifikasi, edukasi, maupun penyampaian informasi resmi secara lebih terarah.
“Jika ada isu yang berpotensi menyesatkan masyarakat, kami bisa lebih cepat mengetahui pola penyebarannya, lalu menyiapkan respons yang tepat berbasis data,” jelasnya.
Selain menangkal hoaks, sistem tersebut juga digunakan untuk menghadapi fenomena echo chamber, yakni kondisi ketika masyarakat hanya menerima informasi yang sejalan dengan pandangannya sendiri sehingga menutup ruang dialog dan verifikasi fakta.
Asep menilai fenomena itu menjadi tantangan serius karena dapat memperkuat polarisasi opini di tengah masyarakat.
“Echo chamber membuat orang hanya mendengar apa yang ingin didengar. Akibatnya, informasi yang salah bisa dianggap benar karena terus berulang di lingkaran yang sama,” katanya.
Untuk itu, Pemkot Tangsel berupaya menghadirkan kanal informasi resmi yang mudah diakses masyarakat melalui berbagai platform digital, termasuk portal layanan Tangsel ONE dan AI Agent Helita yang aktif selama 24 jam.
Melalui kanal tersebut, warga diharapkan memiliki rujukan utama untuk memverifikasi informasi yang beredar di media sosial maupun grup percakapan.
“Kepercayaan publik dibangun dari konsistensi informasi yang benar, cepat, dan mudah diakses. Karena itu kami terus memperkuat kehadiran pemerintah di ruang digital,” tegas Asep.
Ia menambahkan, transformasi digital yang dijalankan Pemkot Tangsel tidak hanya berorientasi pada layanan publik, tetapi juga pada penguatan literasi informasi masyarakat agar lebih kritis dalam menerima setiap kabar.
“Teknologi harus menjadi alat untuk mencerdaskan masyarakat. Tujuan akhirnya bukan hanya layanan yang cepat, tetapi masyarakat yang semakin bijak dalam bermedia digital,” tandasnya. (*)
Tidak ada komentar