Musrenbang Kelurahan Cireundeu, Pilar Saga Dorong Kolaborasi Warga Atasi Sampah

waktu baca 2 menit
Senin, 19 Jan 2026 21:41 101 Nazwa

KOTA TANGSEL | BD – Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Pilar Saga Ichsan, menyoroti pentingnya kerja sama dan koordinasi dalam mengelola limbah sejak titik awalnya.

Pernyataan ini disampaikannya saat hadir dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan Cireundeu, Ciputat Timur (Ciptim), pada hari Senin tanggal 19 Januari 2026.

“Penanganan limbah ini harus dilakukan secara bersama-sama. Sebab, selama kita hidup, kita terus menghasilkan sampah. Oleh karena itu, kami mendorong upaya bersama untuk mengolah sampah langsung dari sumbernya,” ungkap Pilar.

Lebih lanjut, Pilar menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Tangsel sedang mengembangkan Fasilitas Pemulihan Material (MRF) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, serta mempersiapkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Namun, proses ini memerlukan waktu yang cukup lama. Sementara itu, produksi sampah harian terus berlangsung. Karena itu, dalam jangka pendek dan menengah, Pemkot Tangsel bermitra dengan pihak eksternal untuk mengelola sampah.

“Sekarang, prioritas kami adalah menyelesaikan masalah sampah ini. Ini memerlukan dukungan dari semua pihak. Jadi, saya mohon agar kita semua serius mengurangi sampah mulai dari tingkat awal,” katanya.

Langkah awal dimulai dari rumah tangga dengan memilah sampah. Untuk sampah organik, bisa diatasi melalui lubang biopori atau dengan bantuan maggot. Adapun sampah anorganik dapat disetor ke bank sampah.

“Kami juga mendorong agar penggunaan plastik diminimalkan,” tambahnya.

Selanjutnya, Pilar menyatakan bahwa Pemkot Tangsel secara tegas mewajibkan setiap Rukun Warga (RW) memiliki bank sampah.

“Karena jika tidak bergerak bersama, ini akan sulit. Tugas Camat dan Lurah adalah memastikan hal itu, termasuk memasifkan biopori dan keberadaan bank sampah,” tutupnya.

Sementara itu, Camat Ciputat Timur, Rastra Yudhatama, mengatakan bahwa dalam musrenbang tersebut, usulan terdiri dari 60 persen infrastruktur dan 40 persen pemberdayaan masyarakat.

“Namun, kami menekankan masalah sampah. Bukan hanya soal pengadaan peralatan, tapi juga pendidikan dan sosialisasi berkelanjutan dari tingkat RW hingga RT mengenai pengolahan sampah,” jelasnya.

Ini termasuk program sejuta biopori yang telah dicanangkan oleh Wali Kota Tangsel untuk menangani sampah.

“Di Ciptim, kami terus mendorongnya. Bahkan, idealnya setiap rumah memiliki 1 hingga 3 lubang biopori,” ujarnya. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA