Tangsel Cetak Talenta Digital dari Masjid, GPS Digital Academy Resmi Berjalan

waktu baca 3 menit
Kamis, 3 Sep 2026 16:04 6 Nazwa

KOTA TANGSEL | BD — Masjid tak lagi hanya menjadi tempat ibadah. Di Tangerang Selatan, ruang keagamaan tersebut mulai diarahkan menjadi tempat pembelajaran dan pengembangan keterampilan digital bagi generasi muda.

Semangat itu diwujudkan melalui GPS Digital Academy & Innovation Center yang resmi diluncurkan di Masjid Raya Al-Kautsar, Vila Dago Pamulang, Kelurahan Benda Baru, Sabtu (29/8/2026).

Mengusung tema “Kolaborasi untuk Generasi Masjid”, program tersebut menjadi ruang belajar bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk meningkatkan kemampuan di bidang teknologi digital.

Kehadiran GPS Digital Academy sekaligus memperkenalkan pendekatan baru dalam pemberdayaan masjid. Lingkungan rumah ibadah tidak hanya menjadi pusat aktivitas keagamaan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia agar mampu mengikuti perkembangan teknologi.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tangerang Selatan, TB Asep Nurdin, mengatakan perkembangan teknologi yang semakin cepat perlu diimbangi dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkannya.

Menurutnya, transformasi digital pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan perangkat maupun aplikasi, tetapi juga kesiapan manusia yang menggunakannya.

Karena itu, GPS Digital Academy dirancang sebagai wadah pembelajaran yang dapat mendekatkan akses keterampilan digital kepada masyarakat melalui basis komunitas dan lingkungan masjid.

“Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Diskominfo menggagas program ini untuk menjawab kebutuhan talenta digital yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan,” ujar Asep dalam keterangannya, Kamis (3/9/2026).

Program tersebut bukan sekadar rencana. Pelatihan angkatan pertama GPS Digital Academy telah dimulai sejak 15 Agustus 2026 dengan melibatkan 62 peserta dari berbagai latar belakang.

Para peserta mendapatkan pembelajaran yang diarahkan pada kebutuhan keterampilan digital masa kini. Mereka terbagi dalam dua kelas utama, yakni digital content serta fundamental web programming.

Pembelajaran tersebut juga dipadukan dengan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sehingga peserta tidak hanya memahami teknologi secara teoritis, tetapi juga mengenal penggunaannya dalam proses belajar dan berkarya.

Konsep pembelajaran berbasis masjid ini sebelumnya telah diterapkan melalui kegiatan Tangsel Digital Academy di Masjid Al-Kautsar. Masyarakat diberikan kesempatan mempelajari keterampilan seperti pembuatan konten dan coding secara langsung.

Ketua Yayasan Al-Kautsar, Ustaz Juni Sukasmono, menyambut baik keterlibatan masjid dalam program pengembangan kompetensi tersebut. Menurutnya, perkembangan teknologi membuat kemampuan digital semakin penting bagi masyarakat.

Dengan adanya pusat pembelajaran seperti GPS Digital Academy, masjid diharapkan dapat mengambil peran lebih luas dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan generasi muda.

Pengembangan program ini juga melibatkan sejumlah unsur, mulai dari pemerintah daerah, lembaga pendidikan tinggi, hingga komunitas keagamaan. Kolaborasi tersebut diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) program Tangsel Digital Academy antara Diskominfo Tangsel, Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP), dan Institut Teknologi dan Sains (ITTS).

Ketua Gerakan Pejuang Subuh (GPS) Tangsel Ustaz Moh. Sartono turut menjadi bagian dalam pengembangan program tersebut. Kehadiran GPS Digital Academy diharapkan dapat memperluas ruang belajar bagi generasi muda sekaligus membangun ekosistem digital yang tumbuh dari lingkungan masyarakat.

Bagi Tangsel, pemanfaatan masjid sebagai ruang pembelajaran digital membuka peluang baru dalam memperkecil kesenjangan akses terhadap keterampilan teknologi. Generasi muda tidak hanya diarahkan menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menghasilkan karya dan mengembangkan inovasi.

Ke depan, GPS Digital Academy diharapkan menjadi salah satu wadah yang mampu melahirkan talenta digital dari lingkungan masjid sekaligus memperkuat peran komunitas keagamaan dalam menghadapi perubahan teknologi.

Dengan demikian, masjid tidak hanya menjadi tempat membangun kehidupan spiritual, tetapi juga dapat berkembang menjadi ruang untuk menyiapkan generasi yang adaptif, produktif, dan mampu mengambil peran di tengah perkembangan ekonomi digital. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA