TBM Rumah Dunia: Konsistensi Menjaga Generasi Muda Banten Melalui Literasi

waktu baca 3 menit
Senin, 22 Des 2025 12:25 85 Nazwa

OPINI | BD – Di tengah tantangan era digital, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Rumah Dunia tetap teguh menjalankan misinya sebagai pusat pengembangan literasi di Provinsi Banten. Sejak dirintis secara aktif pada tahun 2002 oleh penulis Gol A Gong, lembaga ini telah menjadi rumah bagi ratusan calon penulis dan wadah positif bagi anak-anak sekitar.

Bagi para pesertanya, Rumah Dunia bukan sekadar tempat belajar menulis, melainkan lingkungan sosial yang menyelamatkan. Azmi, salah seorang peserta kelas menulis asal Merak, mengungkapkan bahwa TBM ini memberikan dampak besar bagi mentalitas anak muda.

“Dampak besarnya itu menjadikan anak muda punya pergaulan yang terjaga dari narkoba, sabu, dan miras. Adanya kelas menulis ini membuat kami bisa bergaul dengan ilmu dan mencintai pengetahuan,” ujar Azmi yang mengetahui keberadaan TBM ini melalui alumni dan kepala sekolahnya.

Rumah Dunia mengelola berbagai program yang terbagi dalam jadwal harian, mingguan, hingga tahunan:

  1. Kelas Sore (Harian): Fokus pada anak-anak melalui kegiatan menggambar, mendongeng, dan membaca buku yang dipandu oleh Bunda Tyas.
  2. Kelas Menulis (Mingguan): Program unggulan yang kini memasuki angkatan ke-42. Peserta mengikuti pelatihan intensif selama enam bulan yang mencakup teori, praktik, hingga revisi naskah.
  3. Kegiatan Bulanan & Tahunan: Menggelar panggung sastra, bedah buku, hingga perayaan hari besar literasi seperti Hari Buku Nasional dan Hari Sumpah Pemuda.

Ketua Komunitas Rumah Dunia, Bang Rudi, menegaskan bahwa standar kelulusan kelas menulis sangat nyata. “Syarat lulusnya Cuma satu, yaitu menyelesaikan tulisan sampai layak muat di buku antologi. Tujuannya agar mereka punya karya nyata,” jelasnya.

Meski telah melahirkan lebih dari 200 judul buku alumni, operasional TBM ini dilakukan secara mandiri. Dana kegiatan diperoleh dari penyewaan gedung, unit usaha kafe, serta penjualan buku melalui Gong Publishing.

Namun, tantangan terbesar saat ini adalah ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM). Pasca-pandemi COVID-19, jumlah relawan menurun drastis dari 11 orang menjadi hanya dua orang yang aktif mengelola operasional harian. Selain itu, rendahnya kesadaran pendidikan di lingkungan sekitar masih menjadi pekerjaan rumah bagi para relawan.

“Kami terus berupaya mengedukasi masyarakat tentang peluang beasiswa dan kuliah, meski banyak yang masih berorientasi pada kerja instan setelah sekolah,” ungkap Kak Fajri, salah satu relawan Rumah Dunia.

Eksistensi Rumah Dunia tidak lepas dari dukungan tokoh-tokoh besar literasi nasional. Penulis ternama seperti Tere Liye, penyair Sutardji Calzoum Bachri, hingga sutradara film tercatat pernah mengunjungi dan berbagi ilmu di tempat ini.

Kini, Rumah Dunia terus membuka pintu bagi mahasiswa, pelajar, maupun masyarakat umum yang memiliki komitmen kuat untuk belajar menulis dan membangun budaya literasi di Indonesia.

Penulis: Siti Falakhiatul Mu’minah, Mahasiswa Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam, Fakultas Usuluddin dan Addab, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA