Ilustrasi pemeriksaan endoskopi yang dilakukan untuk melihat langsung kondisi saluran cerna guna mendeteksi berbagai gangguan, mulai dari gastritis dan tukak lambung hingga kanker lambung dan kanker kolorektal sejak dini. (Foto: Ist) SERANG | BD — Pemeriksaan endoskopi menjadi salah satu metode paling akurat untuk mendeteksi berbagai penyakit saluran cerna, mulai dari gastritis, tukak lambung, polip, hingga kanker pada stadium dini. Melalui prosedur ini, dokter dapat melihat langsung kondisi saluran cerna sehingga diagnosis dapat ditegakkan lebih tepat dan penanganan diberikan lebih cepat.
Banyak gangguan pencernaan memiliki gejala yang hampir serupa, seperti nyeri ulu hati, mual, perut kembung, atau rasa tidak nyaman setelah makan. Namun, di balik keluhan tersebut dapat tersembunyi berbagai kondisi dengan tingkat keparahan yang berbeda. Karena itu, pemeriksaan berdasarkan gejala saja sering kali belum cukup untuk memastikan penyebabnya.
Endoskopi merupakan prosedur medis menggunakan alat berbentuk tabung tipis dan fleksibel yang dilengkapi kamera serta sumber cahaya di ujungnya (endoskop). Alat tersebut dimasukkan melalui mulut atau anus untuk memeriksa kondisi organ saluran cerna secara langsung.
Berbeda dengan pemeriksaan pencitraan seperti USG atau rontgen yang hanya memberikan gambaran dari luar, endoskopi memungkinkan dokter melihat warna, tekstur, dan kondisi permukaan organ secara nyata. Pemeriksaan ini dapat menemukan peradangan, luka, perdarahan, polip, maupun pertumbuhan jaringan abnormal yang mungkin tidak terlihat melalui metode pencitraan lainnya.
Selain sebagai alat diagnosis, endoskopi juga dapat digunakan sebagai tindakan terapi. Dalam satu prosedur, dokter dapat mengangkat polip, menghentikan perdarahan, hingga mengambil sampel jaringan (biopsi) tanpa memerlukan operasi terbuka.
“Endoskopi adalah mata kami untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam saluran cerna pasien. Banyak kondisi yang gejalanya mirip satu sama lain di permukaan, namun penyebab dan penanganannya bisa sangat berbeda. Tanpa endoskopi, kami sering hanya bisa menebak—dan menebak bukan dasar yang baik untuk pengobatan,” jelas dr. Rolan Sitompul, Sp.PD, KGEH, Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi Bethsaida Hospital Serang, Senin (27/7/2026).
Endoskopi Saluran Cerna Atas (Esofagogastroduodenoskopi) dilakukan melalui mulut untuk memeriksa kerongkongan (esofagus), lambung, dan bagian awal usus halus (duodenum). Pemeriksaan ini menjadi standar untuk mengevaluasi keluhan seperti nyeri ulu hati kronis, kesulitan menelan, muntah darah, dugaan tukak lambung, serta membantu mendeteksi infeksi bakteri Helicobacter pylori melalui biopsi.
Kolonoskopi dilakukan melalui anus untuk memeriksa seluruh usus besar (kolon) dan bagian akhir usus halus. Pemeriksaan ini merupakan metode utama mendeteksi polip usus, kanker kolorektal stadium dini, penyakit radang usus, serta sumber perdarahan saluran cerna bagian bawah.
Selain itu, endoskopi juga dapat dilakukan sebagai tindakan terapi. Polip dapat langsung diangkat melalui polipektomi, perdarahan dihentikan menggunakan teknik kauterisasi atau pemasangan klip, sementara jaringan yang dicurigai dapat diambil untuk pemeriksaan biopsi dalam prosedur yang sama.
Melalui endoskopi, dokter dapat mendeteksi berbagai penyakit saluran cerna, antara lain gastritis, tukak lambung atau duodenum, infeksi Helicobacter pylori, GERD, esofagitis, polip saluran cerna, kanker lambung, kanker kolorektal, penyakit radang usus seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn, sumber perdarahan saluran cerna yang belum diketahui penyebabnya, hingga varises esofagus yang sering berkaitan dengan penyakit hati kronis.
Banyak masyarakat masih menganggap endoskopi sebagai prosedur yang menakutkan. Padahal, endoskopi modern dirancang agar senyaman mungkin bagi pasien.
Sebelum tindakan, pasien diminta berpuasa selama beberapa jam agar saluran cerna dalam keadaan kosong. Khusus kolonoskopi, pasien juga perlu menjalani persiapan berupa obat pencahar untuk membersihkan usus besar.
Selama prosedur, pasien umumnya mendapatkan sedasi ringan sehingga merasa rileks. Dokter kemudian memasukkan endoskop secara perlahan dan menampilkan kondisi saluran cerna secara langsung melalui monitor. Pemeriksaan biasanya berlangsung sekitar 15–30 menit, tergantung jenis dan kompleksitas tindakan.
Setelah prosedur selesai, pasien akan beristirahat hingga efek sedasi berkurang sebelum diperbolehkan pulang. Hasil pemeriksaan dapat langsung dijelaskan dokter pada hari yang sama atau setelah hasil biopsi keluar apabila dilakukan pengambilan jaringan.
“Saya memahami bahwa banyak pasien yang merasa cemas sebelum menjalani endoskopi. Tapi setelah menjalaninya, hampir semua mengatakan hal yang sama—ternyata tidak seburuk yang dibayangkan. Dengan sedasi yang tepat, prosedur ini jauh lebih nyaman daripada yang banyak orang kira, dan informasi yang didapatkan jauh lebih berharga daripada rasa cemas sesaat sebelum tindakan,” ujar dr. Rolan.
Pemeriksaan endoskopi dianjurkan bagi masyarakat yang mengalami nyeri ulu hati atau gangguan pencernaan berkepanjangan, kesulitan menelan, muntah darah, buang air besar berwarna hitam, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, anemia yang belum diketahui penyebabnya, perubahan kebiasaan buang air besar, memiliki riwayat keluarga kanker saluran cerna, maupun mereka yang berusia 45–50 tahun ke atas sebagai bagian dari skrining kanker kolorektal.
Endoskopi tidak hanya digunakan untuk menegakkan diagnosis pada pasien yang telah bergejala, tetapi juga menjadi metode skrining yang efektif untuk mendeteksi penyakit sebelum menimbulkan keluhan.
Kanker kolorektal, misalnya, sering berkembang dari polip yang tumbuh perlahan selama bertahun-tahun tanpa gejala. Karena itu, skrining kolonoskopi dianjurkan mulai usia 45–50 tahun atau lebih awal bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker kolorektal atau polip.
Masyarakat juga diimbau tidak mengabaikan gangguan pencernaan yang berlangsung lebih dari dua minggu, menerapkan pola makan sehat, memperbanyak konsumsi serat, menghindari alkohol berlebihan, berhenti merokok, serta mematuhi jadwal kontrol apabila sebelumnya pernah ditemukan polip melalui endoskopi.
Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta Mulya Juandi, mengatakan pihaknya berkomitmen menghadirkan layanan diagnostik gastroenterologi yang setara dengan standar rumah sakit rujukan, termasuk fasilitas endoskopi modern yang didukung dokter konsultan berpengalaman.
“Kami ingin masyarakat Banten memiliki akses terhadap deteksi dini penyakit saluran cerna tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke kota besar,” kata dr. Tirta. (*)
Tidak ada komentar