Perkuat Ekonomi Petani, Pentahelix Center Inisiasi Koperasi SIKOMAT di Manglayang Timur

waktu baca 3 menit
Jumat, 29 Mei 2026 23:03 8 Nazwa

SUMEDANG | BD — Pentahelix Center menginisiasi pembentukan Koperasi Produsen Petani Kopi Manglayang Timur (SIKOMAT) sebagai upaya memperkuat ekonomi dan kemandirian petani kopi di wilayah tersebut. Inisiatif ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama Kelompok Tani Berdikari, Jumat (29/5/2026).

Melalui kesepakatan tersebut, kedua pihak berkomitmen mendorong lahirnya SIKOMAT sebagai wadah kolektif petani dalam meningkatkan posisi tawar, menciptakan nilai tambah produk, mengembangkan pengolahan pascapanen, serta memperluas akses pasar secara berkelanjutan.

SIKOMAT tidak hanya dirancang sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga sebagai “mesin kolaborasi” yang menghubungkan petani dengan unsur pentahelix—akademisi, pelaku usaha, pemerintah, komunitas, dan media. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem kopi rakyat dari hulu hingga hilir secara terintegrasi dan berkelanjutan.

Dalam kerangka tersebut, Pentahelix Center akan berperan sebagai mitra pendamping strategis. Lembaga ini merupakan wadah kolaboratif yang digagas oleh para dosen dan praktisi usaha berbasis di Jakarta, dengan fokus pada penguatan jejaring lintas sektor, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan ekonomi berbasis kolaborasi.

Ketua Pentahelix Center, Alip Purnomo, menegaskan bahwa koperasi harus diposisikan sebagai instrumen transformasi ekonomi petani, bukan sekadar entitas administratif.

“Selama ini petani berada pada posisi paling lemah dalam rantai nilai. Koperasi harus menjadi mesin kolaborasi yang menghubungkan petani dengan berbagai pemangku kepentingan agar nilai tambah kembali kepada petani dan desa,” ujarnya.

Ia menambahkan, pendekatan pentahelix memungkinkan koperasi tidak hanya berfungsi sebagai unit produksi dan perdagangan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran, inovasi, serta akses terhadap kebijakan.

“Dengan model ini, koperasi menjadi simpul yang mempertemukan pengetahuan, modal, kebijakan, dan pasar dalam satu ekosistem yang utuh. Ini penting agar petani tidak terus berada dalam posisi rentan dalam sistem ekonomi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Berdikari, Agus Syamroni, menyambut positif inisiatif tersebut dan menilai SIKOMAT dapat menjadi wadah perjuangan ekonomi kolektif bagi petani kopi di Manglayang Timur.

“Kami berharap koperasi ini mampu memperkuat posisi tawar petani sekaligus membuka akses pasar yang lebih adil dan berkelanjutan,” ungkapnya.

SIKOMAT dirancang sebagai koperasi produsen yang mengintegrasikan seluruh rantai usaha kopi, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pengembangan kopi specialty berbasis agroforestri. Selain itu, koperasi ini juga akan mengembangkan skema dana talangan internal guna membantu anggota saat masa paceklik, sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman berbunga tinggi maupun praktik ijon.

Penandatanganan MoU tersebut turut disaksikan oleh Dr. Ependi, S.E., M.M. dan Dani Hotron Tampubolon, S.H., M.H. dari Pentahelix Center, serta Jaja dan Kuswandang dari Kelompok Tani Berdikari.

Sebagai tindak lanjut, proses pembentukan koperasi akan dilanjutkan melalui Rapat Anggota (RAT) yang dijadwalkan pada 5 Juni 2026. Agenda tersebut mencakup penetapan dan pengesahan Anggaran Dasar serta keputusan pendirian koperasi. Selanjutnya, hasil RAT akan dituangkan dalam akta notaris sebagai dasar pengajuan pengesahan badan hukum kepada instansi terkait sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (Ril)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA