SIKOMAT Resmi Diluncurkan, Dorong Kesejahteraan Petani dan Pelestarian Hulu Manglayang

waktu baca 3 menit
Sabtu, 6 Jun 2026 22:38 45 Nazwa

SUMEDANG | BD — Koperasi Petani Kopi Manglayang Timur (SIKOMAT) resmi diluncurkan oleh Pentahelix Center bersama Kelompok Tani Berdikari sebagai instrumen untuk memperkuat kesejahteraan petani sekaligus menjaga kelestarian kawasan hulu Manglayang Timur, Kabupaten Sumedang. Peluncuran koperasi tersebut dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jumat (5/6/2026), dan disertai deklarasi manifesto “7 Seruan Manglayang Timur”.

Ketua Pentahelix Center, Alip Purnomo, mengatakan SIKOMAT dibangun atas keyakinan bahwa agenda pelestarian lingkungan tidak dapat dipisahkan dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang hidup di kawasan hulu.

“SIKOMAT bukan sekadar koperasi yang mencari keuntungan. Ini adalah instrumen perjuangan ekonomi-ekologis yang lahir dari kesadaran bahwa kesejahteraan petani dan kelestarian lingkungan harus berjalan beriringan. Tidak ada pelestarian lingkungan tanpa kesejahteraan petani,” ujar Alip.

Menurutnya, petani harus ditempatkan sebagai aktor utama dalam menjaga keberlanjutan kawasan hulu. Karena itu, koperasi hadir untuk memperkuat posisi petani melalui akses pasar yang lebih adil, penguatan kelembagaan ekonomi, serta dukungan terhadap sistem budidaya yang ramah lingkungan.

Peluncuran SIKOMAT juga menjadi langkah awal pelaksanaan manifesto “7 Seruan Manglayang Timur” yang merupakan hasil konsolidasi berbagai pihak yang selama ini terlibat dalam pengembangan kawasan tersebut.

Tujuh seruan tersebut meliputi rekonservasi kawasan hulu, peneguhan hak kelola lahan dan hak ekonomi petani, pendidikan rakyat berbasis kawasan, penguatan petani berdikari, pembangunan pasar yang berkeadilan, pengembalian nilai tambah produk pertanian ke desa, serta menjadikan koperasi sebagai penggerak utama ekonomi rakyat.

Melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat, SIKOMAT berupaya membangun model pembangunan yang menempatkan pertanian dan konservasi sebagai dua agenda yang saling menguatkan.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah budidaya kopi berbasis agroforestri. Sistem tersebut dinilai mampu menjaga tutupan vegetasi, melindungi sumber mata air, sekaligus menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat.

“Ketika petani mandiri sejak pembibitan hingga pupuk, memiliki kepastian hak kelola lahan, dan mendapatkan harga yang adil melalui koperasi, mereka akan menjadi garda terdepan penjaga hutan. Menjaga pohon bukan lagi beban, tetapi menjadi kebutuhan ekonomi dan strategi bertahan hidup masyarakat desa,” kata Alip.

Upaya tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Sumedang. Dukungan ditunjukkan melalui penandatanganan manifesto “7 Seruan Manglayang Timur” dalam kegiatan Coffee Brand bersama Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan, dan Perindustrian Kabupaten Sumedang.

Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan, dan Perindustrian Kabupaten Sumedang, Ayuh Hidayat, turut menandatangani manifesto tersebut bersama Kepala Bidang Koperasi Ellys Rahmawati dan Penyuluh Koperasi Nuri Aprilia.

Komitmen serupa juga mengemuka dalam sesi Coffee Talk di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang. Kepala Bidang Pangan Iwan Gustiawan, Kepala Bidang Perkebunan Sunsun Gartini, serta Penyuluh Pertanian Imas Kurniasari turut membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk dukungan terhadap agenda konservasi dan penguatan ekonomi petani.

Rangkaian kegiatan ditutup melalui Coffee Retreat di kawasan perkebunan kopi Manglayang Timur pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Puluhan peserta mengikuti diskusi dan refleksi mengenai masa depan kawasan hulu, penguatan koperasi, serta strategi meningkatkan kualitas kopi rakyat secara berkelanjutan.

Hadirnya SIKOMAT menandai lahirnya sebuah ikhtiar kolektif untuk mempertemukan kepentingan ekonomi dan ekologi dalam satu gerakan. Dari lereng Manglayang Timur, koperasi ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi petani yang lebih sejahtera, desa yang lebih mandiri, dan kawasan hulu yang tetap lestari. (Ril)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA