Harga Tiket Pesawat Tinggi, DPR Kritik Kebijakan Diskon

waktu baca 2 menit
Rabu, 11 Feb 2026 20:29 16 Nazwa

JAKARTA | BD – Tingginya harga tiket pesawat mendapat sorotan DPR RI. Kebijakan diskon yang rutin digulirkan pemerintah saat Lebaran dan Natal–Tahun Baru (Nataru) dinilai tidak menyelesaikan persoalan mendasar mahalnya tarif penerbangan.

Anggota DPR RI Lazarus mengatakan, diskon musiman hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh struktur biaya yang menjadi penyebab utama mahalnya tiket pesawat di Indonesia.

“Penurunan harga tiket pesawat itu domain pemerintah. Ada banyak komponen kebijakan yang membuat tiket di Indonesia mahal dan ini tidak pernah diselesaikan secara serius,” ujar Lazarus, Rabu (11/2/2026).

Ia menjelaskan, sedikitnya ada tiga faktor yang memengaruhi tingginya harga tiket. Pertama, harga avtur di Indonesia yang relatif mahal dan masih dikenakan pajak. Kedua, transportasi udara yang masih dikategorikan sebagai barang mewah sehingga tiket pesawat dikenai pajak barang mewah. Ketiga, tingginya pajak dan bea masuk suku cadang pesawat.

Menurut Lazarus, ketiga faktor tersebut secara langsung meningkatkan biaya operasional maskapai yang kemudian dibebankan kepada penumpang.

“Kalau pesawat masih dianggap barang mewah, jangan heran tiketnya mahal. Padahal bagi masyarakat di banyak daerah, pesawat adalah satu-satunya akses mobilitas,” tegasnya.

Ia mendorong pemerintah mengambil langkah permanen, seperti memangkas pajak avtur, menghapus pajak barang mewah tiket pesawat, dan menurunkan bea masuk suku cadang.

“Dampaknya akan langsung terasa pada harga tiket. Bukan sekadar diskon sesaat yang sifatnya reaktif,” ujarnya.

Lazarus menilai mahalnya tiket pesawat sudah menjadi keluhan luas masyarakat. Publik, kata dia, dapat dengan mudah membandingkan harga tiket di Indonesia dengan negara lain yang lebih terjangkau.

“Ini menyangkut hajat hidup orang banyak dan berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat,” katanya.

Sejumlah penumpang turut mengeluhkan hal serupa. Ahmad menyebut diskon tiket hanya berlaku terbatas dan tidak merata.

“Diskon ada, tapi sebentar. Setelah itu harga kembali mahal,” ujarnya.

Sementara itu, Yudistira berharap pemerintah berani menetapkan kebijakan jangka panjang agar harga tiket pesawat kembali terjangkau seperti sebelum pandemi Covid-19. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA