KUKERTA UIN SMH Banten Kelompok 30 Buka Program Bimbingan Belajar, 43 Anak Ikuti Kelas CALISTUNG dan Bahasa Inggris

waktu baca 3 menit
Selasa, 28 Jul 2026 19:20 9 Nazwa

LEBAK | BD – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten Kelompok 30 menggelar program bimbingan belajar bagi anak-anak di Kampung Lebak Lame, Desa Malingping Selatan, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak. Kegiatan ini menjadi salah satu program kerja unggulan kelompok yang disusun berdasarkan hasil observasi dan pemetaan kondisi pendidikan masyarakat setempat.

Program bimbingan belajar tersebut berlangsung mulai 27 Juli hingga 20 Agustus 2026 dengan fokus utama pada peningkatan kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung (CALISTUNG), serta pembelajaran Bahasa Inggris. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 43 anak mengikuti kegiatan yang terbagi dalam dua kelas, yakni 26 anak kelas dasar dan 17 anak kelas lanjut.

Ketua Kelompok 30, Mugiroh, menjelaskan bahwa program ini berangkat dari kepedulian mahasiswa terhadap kondisi pendidikan anak-anak di Kampung Lebak Lame. Berdasarkan hasil observasi bersama masyarakat, ditemukan sejumlah anak yang mengalami hambatan dalam mengikuti pendidikan formal, baik karena faktor lingkungan maupun kondisi sosial yang mereka hadapi.

“Ada anak yang mengalami perundungan dari teman sebayanya. Ia trauma dan takut kembali ke sekolah. Kondisi ini membuat kami merasa perlu menghadirkan ruang belajar yang aman agar anak-anak kembali memiliki semangat untuk belajar,” ujar Mugiroh.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KUKERTA Kelompok 30 yang beranggotakan 15 orang sepakat menjadikan bimbingan belajar sebagai salah satu program prioritas selama masa pengabdian berlangsung.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memberikan pembelajaran akademik, tetapi juga membangun suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi anak-anak. Materi yang diberikan mencakup latihan membaca, menulis, berhitung, pengenalan Bahasa Inggris, serta berbagai aktivitas edukatif yang dikemas secara interaktif.

“Bagi kami, yang paling penting adalah membangun rasa percaya diri anak-anak terlebih dahulu. Kami ingin mereka merasa bahwa belajar itu menyenangkan, bukan sesuatu yang membuat mereka takut atau tertekan,” kata Mugiroh.

Kegiatan bimbingan belajar dilaksanakan secara rutin di serambi musala Kampung Lebak Lame. Dalam proses pembelajaran, mahasiswa juga menerapkan pendekatan personal kepada anak-anak agar mereka lebih terbuka, nyaman, dan termotivasi untuk mengikuti kegiatan.

Fikri selaku divisi humas Kelompok 30 mengatakan, mahasiswa juga melakukan komunikasi dengan orang tua untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya pendidikan bagi masa depan anak.

“Kami mengajak orang tua berdiskusi dan memberikan pemahaman bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting bagi perkembangan anak,” ujarnya.

Salah satu warga Kampung Lebak Lame menyambut positif keberadaan program tersebut. Warga juga memberikan masukan agar informasi mengenai bimbingan belajar dapat disampaikan melalui pengumuman di masjid setempat, sehingga kegiatan ini dapat menjangkau lebih banyak anak, termasuk dari kampung sekitar.

Usulan tersebut mendapat respons baik dari mahasiswa KUKERTA Kelompok 30. Menurut mereka, masjid menjadi salah satu pusat informasi masyarakat yang efektif untuk memperluas jangkauan program.

Mugiroh mengapresiasi dukungan dan masukan dari warga. Ia berharap program bimbingan belajar tersebut tidak hanya memberikan manfaat selama masa KUKERTA berlangsung, tetapi juga dapat menjadi pemantik semangat belajar bagi anak-anak dan masyarakat setempat.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai kegiatan sementara saja. Semoga anak-anak semakin percaya diri, memiliki semangat belajar, dan memahami bahwa pendidikan sangat penting untuk masa depan mereka,” tutup Mugiroh.

Melalui program bimbingan belajar ini, mahasiswa KUKERTA UIN SMH Banten Kelompok 30 berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan anak-anak di Kampung Lebak Lame serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif dan berkelanjutan. (Ril)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA