Mahasiswa UMN Kembangkan Peta Interaktif untuk Pengunjung Pasar Papringan Temanggung

waktu baca 4 menit
Senin, 1 Jun 2026 21:43 10 Nazwa

TEMANGGUNG | BD — Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) mengembangkan peta interaktif berbasis zonasi untuk membantu pengunjung menjelajahi kawasan Pasar Papringan di Desa Ngadiprono, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan bertajuk Susur Jejak Papringan yang digelar pada Minggu (31/5/2026) sebagai bagian dari program Social Impact Initiative UMN.

“Peta pasar, khususnya mengenai kuliner, sangat membantu pengunjung menemukan kuliner yang diminati,” ujar dosen pembimbing program, Indiwan Seto, saat kegiatan berlangsung.

Menurut dosen Ilmu Komunikasi UMN itu, kegiatan Susur Jejak Papringan merupakan salah satu rangkaian program Social Impact Initiative yang dilaksanakan mahasiswa sejak 6 April hingga 6 Juni 2026. Program tersebut mendorong mahasiswa untuk menghadirkan solusi yang berdampak langsung bagi masyarakat melalui kolaborasi dengan komunitas lokal.

Peta interaktif tersebut dirancang oleh Jennyferlius Lis Fernanda sebagai karya tugas akhir di Universitas Multimedia Nusantara. Pengembangannya dilakukan melalui kerja sama dengan Spedagi Movement dan pengelola Pasar Papringan sebagai upaya memperkuat sistem informasi bagi pengunjung melalui media signage.

Keberadaan peta dinilai mampu menjawab kebutuhan navigasi di kawasan pasar yang memiliki area cukup luas dengan banyak titik kuliner dan fasilitas publik.

Pengunjung mengamati peta zonasi Pasar Papringan yang dipasang di kawasan hutan bambu Desa Ngadiprono, Temanggung, Jawa Tengah, Minggu (31/5/2026). Peta interaktif yang dikembangkan mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) tersebut dirancang untuk membantu pengunjung menemukan lokasi kuliner, fasilitas, dan berbagai titik aktivitas di area pasar. (Foto: Istimewa)

“Pengunjung itu banyak pendatang baru, mereka belum tahu tempat-tempat pelapak atau penjual itu di mana, jadi lebih mempermudah,” kata warga lokal, Bagus Lukman Hakim.

Menurut Bagus, peta tersebut sangat membantu terutama bagi pengunjung yang datang dari luar daerah dan belum mengenal tata letak Pasar Papringan.

Pasar Papringan sendiri lahir dari keprihatinan Spedagi Movement terhadap keberadaan hutan bambu di desa-desa yang kerap terabaikan dan kehilangan fungsi ekologisnya. Melalui konsep pasar rakyat berbasis komunitas, kawasan bambu dihidupkan kembali menjadi ruang ekonomi, budaya, dan edukasi bagi masyarakat.

Saat ini Pasar Papringan menghadirkan sekitar 130 jenis kuliner tradisional, mulai dari makanan berat, jajanan pasar, hingga minuman khas daerah. Salah satu menu yang menjadi daya tarik utama adalah Wedang Pring, minuman yang diolah dari daun bambu pilihan. Selain area kuliner, pasar juga memiliki playground, area gamelan, serta ruang baca yang menyediakan berbagai koleksi buku.

Di balik keragaman pengalaman yang ditawarkan, luasnya area Pasar Papringan kerap membuat pengunjung kesulitan menemukan lokasi tertentu. Berdasarkan observasi yang dilakukan mahasiswa selama mengikuti program di lokasi, banyak pengunjung masih bertanya mengenai posisi pelapak maupun fasilitas yang tersedia.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim mahasiswa mengembangkan sistem peta zonasi yang membagi area pasar ke dalam tiga wilayah utama. Zona 1 mencakup area teller hingga playground, Zona 2 meliputi area kerajinan dan kuliner 1, sementara Zona 3 mencakup area kuliner 2.

Karena posisi lincak atau lapak dapat berubah pada setiap gelaran pasar, peta dirancang menggunakan sistem pin kayu yang dapat dipindahkan sesuai kebutuhan. Sistem ini memungkinkan informasi tetap relevan dan mudah diperbarui tanpa harus membuat peta baru.

Untuk memperkenalkan penggunaan peta kepada pengunjung, tim mahasiswa menggelar aktivitas eksplorasi bertajuk Susur Jejak Papringan. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak menelusuri berbagai titik di Pasar Papringan dengan bantuan peta sambil mengenal area non-kuliner dan sejumlah lincak pilihan.

Lima sajian khas yang menjadi bagian dari rute eksplorasi adalah Wedang Pring, Dawet Anget, Lentho, Klenyem, dan Bajingan. Peserta juga memperoleh souvenir berupa tepung mocaf berbahan dasar singkong serta mini sertifikat sebagai bentuk apresiasi.

Kegiatan yang dilaksanakan pada gelaran Pasar Papringan Minggu Pon, 31 Mei 2026, tersebut diikuti 21 peserta yang terdiri atas pengunjung umum dan anak-anak warga setempat. Selain peserta yang mengikuti kegiatan secara langsung, banyak pengunjung lain turut memanfaatkan tiga peta zonasi yang dipasang di sejumlah titik strategis pasar.

Melalui inovasi ini, mahasiswa UMN berharap pengalaman pengunjung dalam menjelajahi Pasar Papringan menjadi lebih mudah, terarah, dan menyenangkan, sekaligus memperkuat fungsi peta sebagai media informasi dan navigasi yang efektif. (Ril)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA